Umar bin Abdul Aziz (bagian 2)

Pidato pertama

Beginilah pidato pertama Umar bin Abdul Aziz terhadap rakyatnya,

Yaa ayyuhannaas, sesungguhnya aku telah diuji dengan perkara ini, tanpa dimintai pendapat, tidak pernah ditanya dan tidak ada musyawarah dengan kaum muslimin. Aku telah membatalkan bai’at untukku yang ada di pundak-pundak kalian, sekarang pilihlah (secara bebas) seseorang untuk memimpin kalian.”

Maka orang-orang menjawab serempak, “Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilihmu, kami menerimamu, silahkan pimpin kami dengan kebaikan dan keberkahan.”

Saat itu, Umar merasa bahwa dirinya tidak mungkin menghindar dari tanggung jawab khilafah. Umar kemudian berkata kepada rakyatnya bahwa :

  1. Tidak ada nabi setelah Muhammad SAW, tidak ada pula kitab setelah Al-Qur’an. Dan apa yang dihalalkan Allah adalah halal sampai hari Kiamat.
  2. Beliau bukanlah hakim, beliau hanya pelaksana
  3. Beliau bukanlah pelaku bidah, akan tetapi pengikut Nabi
  4. Beliau bukanlah orang terbaik, karena beliau hanyalah seorang lelaki biasa. Hanya saja Allah memberinya beban yang lebih berat daripada rakyatnya.

Beliau juga berwasiat agar rakyatnya :

  1. Bertakwa kepada Allah
  2. Beramal untuk akhirat, karena barang siapa beramal untuk akhirat, niscaya Allah akan mencukupkan dunianya.
  3. Perbanyak mengingat kematian
  4. Tidak berselisih karena dinar dirham.

Umar bin Abdul Aziz juga menekankan bahwa beliau wajib ditaati ketika beliau menaati Allah. Pun beliau juga tidak wajib ditaati jika beliau mendurhakai Allah.

Menyebarkan Cahaya Islam Melalui Tangan Ulama

Umar berusaha keras untuk beramal dengan berpedoman kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Titik tolak Umar adalah pemahamannya terhadap urgensi dan kedudukan khilafah, yatu menjaga Agama dan menata dunia 1. Baca lebih lanjut

Umar bin Abdul Aziz (bagian 1)

Tonggak penting negara yang dibangun Umar bin Abdul Aziz adalah pertama, berdirinya pusat kajian ilmiah dan pendidikan, dan kedua orang yang menjadi penasihat, gubernur dan pejabatnya adalah orang yang shalih, jujur, amanah dan berilmu. Meskipun pemerintahannya demikian singkat, hanya 2 tahun, namun masyarakat luas, baik Muslim maupun non Muslim, hidup berkecukupan sampai tak ada orang yang mau menerima zakat dan sedekah. Berikut ini saya tuliskan ringkasan kecil, dan insyaAllah akan berlanjut di tulisan berikutnya.

Beliau adalah Cicit dari Umar bin Khattab

Beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abu al-Ash bin Abd Syams bin Abd Manaf. Beliau adalah seorang imam, al-hafidz, allamah, mujtahid, hli zuhud, ahli ibadah, pemimpin, dan Amirul Mukminin dalam arti yang sebenarnya.

Ayah Umar bernama Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam, satu dari gubernur-gubernur Bani Umayyah pilihan, seorang laki-laki pemberani dan dermawan, beliau memegang jabatan gubernur Mesir lebih dari dua puluh tahun.

Ibu Umar bernama Ummu Ashim atau Laila binti Ashim bin Umar bin al-Khattab. Nenek Umar dari pihak ibu mempunyai kisah dengan Umar bin al-Khattab. Dari Abdullah bin az-Zubair bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya Aslam, beliau berkata, “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin al-Khattab berpatroli di Madinah. Ketika merasa lelah, beliau bersandar ke sebuah dinding di tengah malam kemudian mendengar wanita berkata kepada putrinya,

”Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.”

Maka putrinya menjawab,”Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin hari ini?”

Ibunya bertanya,”Wahai putriku, apa maklumatnya?”

Putrinya berkata,”Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan,hendaknya susu tidak dicampur dengan air.”

Ibunya berkata,”Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.”

Maka gadis itu menjawab,”Ibu, tidak patut bagiku menaatinya di depan khalayak dan menyelisihinya di belakangnya.”

Sementara Umar mendengar  semua perbincangan tersebut. Maka dia berkata,”Aslam, tandai pintu rumah tersebut dan kenalilah tempat ini.” Kemudian Umar bergegas melanjutkan patrolinya. Baca lebih lanjut

Jika suatu saat kita menjadi ibu

Jika suatu saat kita menjadi ibu…
Jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang berhasil mengobarkan semangat Abdullah bin Zubair (anaknya) yang dengan menakjubkan sanggup bertahan dari gempuran Al Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga syahid menjemputnya. Namanya abadi dalam sejarah dan kata-kata Asma’ “Isy kariman au mut syahiidan! (hiduplah mulia, atau mati syahid!),”…. Abadi hingga kini.

Jika suatu saat kita menjadi ibu,……
Jadilah seperti Nuwair binti malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi sang anak, Zaid bin Tsabit. Usia Zaid baru 13 tahun ketika ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang Badar. Rasulullah SAW pun tak mengabulkan keinginannya untuk ikut berperang, Zaid pun pulang dengan hati yang sedih, namun sang ibu mampu meyakinkan Zaid bahwa ia bisa berbakti kepada islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Dan tak lama kemudian ia diterima Rasulullah SAW karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.
Baca lebih lanjut

Beginilah kita meyakini Allah

Orang-orang yang beriman pada Allah memiliki keyakinan yang kuat bahwa apapun yang menimpa dirinya merupakan skenario terbaik yang ditentukan Allah ta’ala. Orang lain bisa saja menganggap kegagalan atau pun keterpurukan, tapi tidak halnya dengan keyakinan mereka yang beriman. Setiap skenario Allah bagi kita, insya Allah, merupakan kebaikan. Itu kita yakini sepenuhnya, meskipun Allah tidak sekalipun membeberkan alur ceritanya. Inilah yang dapat kita pelajari dari perjalanan hidup para nabi. Mereka jalani hidup dengan keyakinan.

Yusuf ‘Alaihis Salam misalnya, tak secuilpun mengetahui alur cerita hidup yang akan dijalaninya. Ia menjadi tenang bukan karena mengetahui detail tiap episode kehidupannya. Ia menjadi tenang karena keyakinan yang kuat pada Allah. Perhatikanlah kisahnya. Betapa episode hidupnya selalu berupa ujian demi ujian. Dalam usianya yang masih belia, Yusuf harus berhadapan dengan konspirasi kedengkian saudara-saudaranya Baca lebih lanjut

Tagnames!

Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah berlalu. Saatnya menatap masa depan dengan penuh optimisme. Jangan biarkan penyesalan menghambat kita untuk maju. Jadikan ini sebagai muhasabah untuk memperbaiki diri. Keep fighting!!

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, “Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain.” Akan tetapi katakanlah, “Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat.” Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

Tagnames = Semangat !! Tinggal satu semester lagi 🙂 Aamiin..

Bukan sekedar membina

Membina itu bukan pekerjaan gampang. Membina itu butuh kesabaran. Membina adalah tantangan. Membina artinya mencetak insan mulia. Membina artinya mengenalkan fikroh. Membina artinya memelihara generasi dalam perjuangan. Seseorang boleh cerdas, pintar, luas ilmunya, atau indah akhlaknya namun tak menjamin ia sanggup membina. Tak menjamin ia sanggup membina dengan sabar demi membangun generasi yang cemerlang.

Menjadi seorang murabbi tentu butuh effort lebih. Sebagai murobbi, kita harus tahu karakteristik mente kita. Sebagai murobbi, kita harus dekat dengan mente kita. Sebagai murobbi, kita juga dituntut paham ilmu. Sebagai murobbi, kita juga dituntut menarik dalam penyampaian dan juga mampu memuaskan dahaga keilmuan binaan.

Menjadi murobbi, bukan lagi kita bicara tentang prestise atau kepopuleran. Menjadi murobbi adalah kesungguhan dan pengorbanan. Menjadi murobbi adalah keikhlasan dalam mempertahankan. Tak banyak orang mau menjadi murobbi. Entah karena Baca lebih lanjut

Doktrin atau prinsip?

Doktrin adalah sebuah prinsip atau tubuh prinsip yang diberikan untuk penerimaan/dukungan atau kepercayaan seperti oleh sebuah agama, sebuah kelompok politik, ilmu pengetahuan, atau filosofi; dogma.

Boleh jadi tujuan hidup adalah ibadah juga doktrin. Ikut aliran tertentu, disebut kena doktrin. Pun ketika saya katakan bahwa dakwah itu wajib, maka itu juga bisa dikatakan orang sebagai doktrin. Istilah doktrin sendiri membuat makna yang bersifat wajib menjadi bergeser ke makna negatif. Dengan alasan doktrin, maka kita bebas memilih apa yang kita mau, asalkan kita suka atau tidak. Doktrin sering menjadi kambing hitam untuk menghindari suatu hal yang boleh jadi bermanfaat. “Ah, itu doktrin!”

Doktrin, adalah suatu penyampaian yang dilakukan terus menerus untuk menanamkan suatu prinsip. Tujuannya memang membuat orang meyakini sehingga mau melaksanakan apa-apa yang dituliskan dalam doktrin. Doktrin bisa membuat kita yang percaya, menjadi sang ahli ‘pokok’e’. “Pokok’e ngunu, ngene, dan bla bla” adalah jawaban ketika ditanya alasan mengapa kita percaya doktrin. Doktrin membawa pengaruh besar. Doktrinlah yang membuat seorang fanatik bisa mengorbankan apa saja dalam hidupnya. Doktrinlah yang membuat beberapa kelompok merasa benar dan saling menyalahkan. Doktrin pun pernah menjadi asal muasal perang karena kepercayaan yang berlebihan. Doktrin pula yang digunakan orang ateis untuk menyebut agama. Baca lebih lanjut