Sesal

Degg!!

Sakit sekali… Terngiang lagi sebutan penjahat, tidak punya hati, egois dan sebagainya yang dialamatkan pada saya dua malam lalu. Seakan semua itu memang benar adanya.

Dalam hati saya sudah meniatkan pulang selama dua pekan dan meninggalkan semuanya untuk sementara, setelah saya menyelesaikan urusan saya selama lima hari. Namun nyatanya sudah terlambat. Seandainya saja pekan ini tidak ada tes kerja segala macam, mungkin hati saya akan lebih ringan untuk segera pulang. Untuk segera merawat…

Mungkin saat itu, hati saya sudah berkarat. Otak saya sudah membeku. Ruhani saya sudah keruh.

Dan, Engkau memanggilnya, ya Allah…

Akhirnya, dalam satu bulan ini, sudah dua kabar duka menghampiri telinga. Sesak sekali dada ini. Kematian seharusnya memang tak pernah pandang bulu, kapan, siapa dan dimana.

“Di mana pun kalian berada pasti kematian merengut kalian walaupun dalam benteng yang kokoh.” (QS An Nisa: 78).

dan penyesalan memang selalu datang terlambat…

Kontradiksi

Tulang yang terbungkus kulit
Pipi yang cekung
Rambut yang menipis

Hampir-hampir saya tak mengenali beliau. Beliau adalah sosok yang baik bagi saya. Saat kecil, beliau senang mengajak kami bermain kartu remi. Mengajak kami jalan-jalan. Beliau juga tak segan membelikan kami makanan ketika kami berkunjung. Tak pernah terlihat kesusahan di raut wajah beliau, hingga akhirnya…

Alasan ekonomi. Percekcokan. Hasrat dari yang lain tentang materi yang harus berkecukupan. Mendengar beliau diusir, menjadikan diri paham bahwa menjalani kehidupan dengan kerikil-kerikil terbentang itu memang tak mudah.

Kabar berikutnya, beliau nyaris kehilangan akal.
Kabar lain lagi, beliau mencoba lari dari kehidupan.

Hingga akhirnya beliau berhasil diselamatkan, meskipun akhirnya beberapa bulan kemudian beliau harus kembali lagi ke rumah sakit. Beliau tidak lagi bisa makan. Seringkali beliau muntah ketika memakan sesuatu, bahkan yang paling lembut sekalipun. Baca lebih lanjut

Kawan, inilah jalan dakwah

Nemu taujih nih, cucok buat aktivis dakwah kampus yang merasa diberdayakan. Taujih ini sepertinya datang saat kami sedang sibuk-sibuknya (mungkinn) mempersiapkan parade, agenda syiar besar di lembaga dakwah jurusan. Tapi kayaknya saya enggak baca, soalnya waktu itu jarang ol fb 😛 But, its still touching my heart (ahh, lebayyy)

———————————-
Percakapan dimulai 18 Maret 2011

18/03/2011 21:38

Studi-Islam Teknik-Computer

Lelah

Seiring berjalannya waktu, rasa lelah terhadap dakwah terkadang mampir untuk menyapa, tidak jauh beda dengan tali sepatu, karena lamanya dan seringnya sepatu dibuat bepergian, talinya pun akan mengendor sedikit demi sedikit.. Semangat muda yang kemarin telah ada, terkadang sirna, Kecewa dengan semuanya, sesaat muncul dan menghantarkan kita dalam jurang ketidak percayaan..

Semuanya ada alasan ketika kata2 diatas terlontarkan dari hati para aktivis dakwah… Banyak alasan yang membuat mereka seperti itu,, alasan “kok aku saja yang kerja, kok mereka seperti ini dan itu, kok mereka tidak kasihan sama aku, kok dia selalu menyuruhku, kok di liniku seperti ini dan di lini lain seperti itu, kok aku gak diperhatikan kok dia sulit diajak kerja dll….”

Ketahuilah kawan, inilah jalan dakwah… Inilah jalan para pejuang yang tidak takut celaan, inilah jalan para pengganti generasi yang mencintai Allah dan Allah mencintai mereka (QS.5 : 54) Baca lebih lanjut

Akhirnya, skenario yang indah

Ada bagian hati yang bernama perih
ketika menerima kebaikan yang ditebar orang lain
sedangkan diri tak mampu memberi lebih

Ada bagian hati bernama malu
Ketika diri menjadi beban
dimana sudah saatnya menjadi insan mandiri

Ada bagian hati bernama pilu
Ketika itu, aku tahu
Bahwa sedih berkepanjangan tak akan membawa apapun
Yang bisa mengubah kelu itu
Lagi-lagi ikhtiar, doa disertai tawakkal

—–

Ketika saya menulis beberapa baris bait diatas, saya dalam keadaan sedih karena merasa sudah menyulitkan orang tua. Saya sangat memikirkan bagaimana nantinya saya harus mengembalikan uang orang tua, yang saya gunakan untuk membayar biaya SPP S2 yang cukup mahal di semester selanjutnya. Saya sampai mencari-cari beasiswa, lowongan pekerjaan, dan juga menulis apa saja yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan kuliah saya. Ya, saat itu saya baru saja ditolak maju sidang tesis. Saya memang sudah tahu bahwa apa yang saya lakukan dalam penelitian kurang begitu berhasil dari segi output.

Kalau dibilang galau, ya memang galau. Meski ada waktu-waktu saya menyalahkan diri sambil meneteskan air mata, namun akhirnya saya memfokuskan diri untuk persiapan kuliah di semester berikutnya. Dan ternyata…

Kemarin, mendadak dosen pembimbing kedua saya menelepon. Meminta saya melakukan progress pada dosen pembimbing pertama saya, sekaligus menanyakan lagi apakah saya memiliki kesempatan maju sidang. Saya terkejut pada awalnya. Terlebih deadline pengumpulan draft akhir adalah hari itu. Saya langsung membuka file laporan dan kodingan, yang rasa-rasanya, sudah lama tak saya buka.

Ini kesempatan, pikir saya. Untungnya setelah saya ditolak maju sidang, saya sempat melakukan ujicoba, sehingga saya punya modal untuk progress.

“Kamu jangan ge er dulu, Ris.” ucap dosen pembimbing kedua saya saat saya hendak progress di ruangan dosen. Saya hanya mengangguk, namun di dalam hati saya, ada secercah harap yang diam-diam terbit. Sesaat sebelum itu, saya sempat (lagi-lagi) menangis setelah shalat. Meminta kekuatan, baik lisan yang lancar maupun pikiran yang jernih, untuk bisa meyakinkan kedua dosen pembimbing saya agar diperbolehkan maju sidang.

Dan akhirnya saya pun progress. Setelah sekian menit, akhirnya saya diperbolehkan sidang dengan catatan harus banyak melakukan ujicoba.

Allahu akbar!!! Alhamdulillah, ya Rabb…

Rasanya tak percaya. Bahagia ini menjadi tak terlukiskan, meskipun jalan saya untuk bisa lulus masih panjang. Diperbolehkan maju sidang bagi saya adalah bagaikan mimpi dan mimpi ini harus diselesaikan sampai akhir. Ya, agar mampu menjemput asa setelahnya.

Memang, hanya Allah-lah yang tahu apa yang terbaik untuk diri kita. SkenarioNya sungguh tak terduga bagi saya. Sepotong kalimat yang dilontarkan adik kandung saya, mendadak terngiang di kepala kala menasihati saya yang bersedih karena ditolak maju sidang.

“Inget ini, Mbak. ‘Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik pada Allah.'”

Berkah Ramadhan…

Mereka adalah calon generasi penebar kebaikan

Pagi kala itu menyenangkan dan membuat saya bernostalgia. Saya memutuskan untuk seharian menyibukkan diri dengan bertemu dengan orang-orang yang menginginkan kebaikan serta menginginkan kedekatan dengan RabbNya.

Episode pertama, saya bertemu insan yang pemalu. Tapi saya menyukai semangatnya untuk menjadi mentor. Mirip saya dulu, yang masih cupu dan belum tahu apa-apa. Saya dulu daftar mentor karena ingin menjadi orang baik dan juga menebar kebaikan kepada yang lain. Padahal kalau diukur dengan calon mentor yang rata-rata saya temui hari ini, tsaqofahnya cenderung lebih bagus dibandingkan saya yang dulu. Entah kenapa, dulu bisa-bisanya saya kok (tumben2nya) pede ya…

Kedua kalinya, saya bertemu dengan insan yang supel. Setiap kali disinggung suatu cerita, dia bisa berbicara kemana-mana. Anak Bandung ternyata. Dulunya aktif di taekwondo semasa SMA, namun tidak di Rohis. Saya terharu ketika mendengar dia berkata, “Saya masuk JMMI karena ingin mendapat lingkungan yang menshalihkan, mbak”. Berbeda dengan saya dulu, yang punya motivasi lain. Saat SMP, dan kebetulan Bapak saya jadi kepala sekolah, beliau mengalokasikan dana untuk menghidupkan perpustakaan dengan koleksi fiksi islami. Ah, mungkin Bapak sengaja supaya saya mengalihkan hobi baca komik. Baca lebih lanjut

Kebertepatan yang harus disyukuri

Kejadian random hari ini (atau kebertepatan, meminjam istilah ustadz Salim) adalah ketika saya hendak mentoring lanjutan, malah berakhir didaulat jadi pemateri kajian keputrian LDJ KMI (Keluarga Muslimah Informatika). Sekitar 40 menit sebelum acara saya baru diberitahu, gara-gara pemateri yang tidak bisa dihubungi, dan materinya tentang “semangat belajar”. Saya hendak menolak, tapi tidak tega dengan kebingungan adik panitia. Huwaaa, akhirnya kontan saya langsung gugling tak tentu arah. Alhamdulillah, saya bisa menyampaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya, ndak sampai setengah jam. Apa daya, karena sebenarnya bukan bakat saya ngomong ngalur ngidul di depan forum.

Mungkin ini pelajaran buat saya, yang seringkali menolak mengisi kajian keputrian karena beralasan tidak mampu dan sibuk. Sama halnya untuk kajian ibu-ibu kemarin, di kajian ini saya merasa diberikan Allah kelapangan dada dalam menyampaikan materi. Selepas kajian, anehnya  Baca lebih lanjut

Di mushala kecil itu, kami membicarakan surga

#reportase

Alhamdulillah, kajian diniyah ibu-ibu binaan, sekaligus media memperat tali silaturrahim antara BPU dengan ibu binaan, berlangsung lancar. Meskipun terlambat satu jam, menjadi tak mengapa karena sesungguhnya saya  menikmati detik-detik bersama adik pembinaan BPU yang bersemangat, di mushola yang kerap kali dipanggil mushola Pak Haji Seno di Kejawan Gebang. Ketika saya mendengar cerita mereka, perkembangan BPU saya akui sungguh luar biasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dahulu saat saya masih magang di pembinaan BPU (dulu namanya DPU), saya sering disms untuk ikut kajian ibu binaan di waktu malam. Saat itu, saya tidak pernah ikut karena saya tidak terbiasa pulang malam di tahun pertama kuliah. Tahun kedua, saya tidak memperhatikan karena saya berpindah divisi. Tahun ketiga, saya baru ikut membantu, itupun karena sahabat saya menjadi koordinator putri divisi pembinaan. Tahun keempat, yah, akhirnya jadi tanggung jawab bersama saya dengan squad BPU 1112. Sampai saat itu, saya tidak pernah berpikir menjadi pemateri di kajian ibu binaan, karena saya juga tidak yakin dengan kemampuan saya. Buat saya, menjadi pembicara ibu-ibu itu syaratnya adalah komunikatif dan lucu. Kalau tidak, maka saya jamin ibu-ibu akan mengantuk saat materi, karena kajian diadakan saat malam yang merupakan waktu-waktu beristirahat.

Setelah dua kali dibujuk oleh adik-adik, akhirnya saya mengiyakan amanah menjadi pemateri, setelah juga berpikir dalam-dalam. Salah satu alasan kenapa saya akhirnya memberanikan diri menjadi pemateri di depan ibu-ibu yang usianya jauh lebih tua dibandingkan saya, adalah karena kami berposisi melingkar. Posisi tersebut justru membuat saya rileks, karena melingkar adalah kebiasaan yang menenangkan. Dengan melingkar, kita bisa melihat wajah satu sama lain, sehingga untuk berbicara menjadi lebih nyaman. Terlebih lagi, jumlah pesertanya segelintir, hanya 5 orang. Seandainya posisinya seperti kajian biasa, yang berbaris-baris, dengan pemateri di depan, bisa dipastikan saya akan grogi dan mati gaya, hehe. “Kita sama2 belajar, ya bu.” ucap saya sebelum memulai.

Mulanya dibahas terkait kunci menggapai surga, yakni syahadat. Saya tidak menyampaikan tujuh syarat diterimanya syahadat sebagaimana yang disampaikan di buku-buku mentoring, karena audiens saya adalah ibu-ibu, yang notabene bukan orang yang berpendidikan tinggi. Saya lebih menekankan ke macam-macam pintu surga dan bagaimana peran seorang istri bisa mengantarkannya ke surga selama ia taat kepada suami. Alhamdulillah responnya baik, ada yang curhat tentang suami yang susah bangun subuh karena lelah bekerja, sampai ada yang menanyakan, “Apakah bisa kami (suami+istri) berdua dikumpulkan di surga?” Wah..

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar (dari semua itu). Itulah kemenangan yang agung. (At-taubah 72)

Semoga kelak kita bisa dipertemukan di surga kelak, ya Bu. Aamiin.