26

Dua bulan lagi, usia akan bertambah. Hampir dua puluh enam tahun aku menjalani kehidupan di dunia ini. Hampir setahun lamanya pula, aku menjadi seorang sulung di rumah. Entah sudah berapa kali aku menangis karena merindu almarhum Mbak, dimana sebagian besar aku menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku tidak bisa menjaga dan merawatnya dengan baik.

Lupus, diagnosa dokter. Sudah dua kali Mbak masuk rumah sakit, tapi dokter baru menyebut penyakitnya dengan pasti untuk yang ketiga kali. Sementara, aku baru tahu bahwa Mbak pernah tes Lupus sebelumnya. Hasilnya negatif, namun dalam ambang batas. Dalam artian, mendekati positif.

Ya, aku adalah orang paling bodoh. Aku menyayanginya tapi aku tak menunjukkan dengan baik. Aku tak memberinya perhatian banyak, padahal seharusnya akulah orang pertama yang menjaganya di keluarga ini. Dan aku baru menyadari hal itu setelah semuanya menjadi terlambat…

Aku masih ingat bagaimana Mbak membenci rawat inap di rumah sakit. Beliau tidak ingin menyusahkan keluarga akan penyakitnya. Beliau juga membenci obat, padahal di sisi lain beliau adalah seorang dokter. Beliau sering memaksakan diri bergerak padahal kondisi beliau sakit. Beliau jarang mengeluh padaku akan sakitnya.

Aku menyayangi Mbak. Bagaimana aku bisa mengenal dakwah, sebagian besar adalah karena aku meneladani Mbak. Mbakku yang cantik, luwes dan sederhana. Mbakku yang bersemangat ODOJ. Mbakku yang bersemangat menjadi hafidzah. Mbakku yang berkurban dengan semangat menabung sejak beberapa bulan lamanya.

Tahun lalu, Mbak pergi tepat empat hari setelah aku bertambah usia. Mbak pergi tepat empat hari aku diangkat menjadi PNS Kementrian Agama. Mbak pergi di saat aku sangat amat percaya bahwa beliau tidak akan meninggalkanku. Mbak pergi di saat aku masih sangat membutuhkan sosoknya. Di saat aku masih harus banyak belajar darinya. Banyak hal.

Dua puluh enam adalah usia Mbak saat pergi. Bulan November adalah bulan kelahiranku sekaligus bulan kepergiannya. Aku sudah tak berhasrat merayakan milad atau apapun itu. Bertambahnya usia bukan lagi waktu bersenang-senang. Karena sesungguhnya, usia menjadi pertanda bahwa waktu kita di dunia semakin sedikit.

Aku memahami sepenuhnya bahwa kami pada hakikatnya tidak berpisah. Perpisahan itu adalah seandainya di akhirat nanti, kami tak berkumpul di surga. Maka risauku bukan lagi terfokus pada rejeki, tahta, terlebih galau “kapan menikah”. Risauku lebih pada amal-amalku yang ringkih. Lalu, apa kabar iman?

2 pemikiran pada “26

  1. Nuris. Lama gak ketemu. Pas baca ini jadi ikut ngerasa…. Semoga diberikan kekuatan ya nuris. Semoga mbak diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah. Dan kalian bisa ngumpul bareng lagi kayak dulu

    • Aamiin makasih Mb Ude..
      Jazakillah, bersama teman2 seangkatan dulu, Mb Ude pernah bantu dukungan moral, materiil dan doa utk alm Mbak ketika beliau akan operasi kaki.
      Semoga kita jg bisa dikumpulkan dalam keadaan yg baik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s