Kontradiksi

Tulang yang terbungkus kulit
Pipi yang cekung
Rambut yang menipis

Hampir-hampir saya tak mengenali beliau. Beliau adalah sosok yang baik bagi saya. Saat kecil, beliau senang mengajak kami bermain kartu remi. Mengajak kami jalan-jalan. Beliau juga tak segan membelikan kami makanan ketika kami berkunjung. Tak pernah terlihat kesusahan di raut wajah beliau, hingga akhirnya…

Alasan ekonomi. Percekcokan. Hasrat dari yang lain tentang materi yang harus berkecukupan. Mendengar beliau diusir, menjadikan diri paham bahwa menjalani kehidupan dengan kerikil-kerikil terbentang itu memang tak mudah.

Kabar berikutnya, beliau nyaris kehilangan akal.
Kabar lain lagi, beliau mencoba lari dari kehidupan.

Hingga akhirnya beliau berhasil diselamatkan, meskipun akhirnya beberapa bulan kemudian beliau harus kembali lagi ke rumah sakit. Beliau tidak lagi bisa makan. Seringkali beliau muntah ketika memakan sesuatu, bahkan yang paling lembut sekalipun.

Sesampainya di tempat beliau, saya terkejut ketika melihat beliau untuk pertama. Kurus sekali, ya Allah. Ujung selang infus untuk makan kini menempel di tangannya. Beliau masih bisa berbicara dengan suara yang samar, namun untuk berjalan, beliau tidak mampu lagi. Hati ini menjadi sedih, sementara nafsu makan entah hilang kemana.

Satu kalimat dari orang yang sangat saya sayangi, yang menjaga beliau, berucap dengan nada mengiris,
“Saudaranya kaya-kaya. Mana mau ngurus disini. Tinggal saya yang renta ini.”
Yang lain menyambut,
“Sabar, Bu. InsyaAllah surga yang menyambut, lantainya bertingkat-tingkat.”

Bahkan saudaranya sudah tak sanggup melihat, karena tidak kuat akan penderitaan yang tergambar nyata di wajah dan tubuh beliau.

Alhamdulillah, beliau menguatkan harapan untuk sembuh.. Barangkali melihat air mata yang berulangkali keluar dari orang yang saya sayangi tersebut, dengan tindakan yang telaten merawat dan menjaga beliau.
 
Di sisi lain, saya sibuk mengejar kesempatan berkarir setelah lulus. Dengan agenda-agenda yang belum bisa saya tinggalkan. Kontradiksi yang menyakitkan.

Kepulangan saya ke rumah diiringi hujan yang sewarna dengan suasana rasa.

 

Mula-mula perih. Lalu harap. Dan do’a…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s