Akhirnya, skenario yang indah

Ada bagian hati yang bernama perih
ketika menerima kebaikan yang ditebar orang lain
sedangkan diri tak mampu memberi lebih

Ada bagian hati bernama malu
Ketika diri menjadi beban
dimana sudah saatnya menjadi insan mandiri

Ada bagian hati bernama pilu
Ketika itu, aku tahu
Bahwa sedih berkepanjangan tak akan membawa apapun
Yang bisa mengubah kelu itu
Lagi-lagi ikhtiar, doa disertai tawakkal

—–

Ketika saya menulis beberapa baris bait diatas, saya dalam keadaan sedih karena merasa sudah menyulitkan orang tua. Saya sangat memikirkan bagaimana nantinya saya harus mengembalikan uang orang tua, yang saya gunakan untuk membayar biaya SPP S2 yang cukup mahal di semester selanjutnya. Saya sampai mencari-cari beasiswa, lowongan pekerjaan, dan juga menulis apa saja yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan kuliah saya. Ya, saat itu saya baru saja ditolak maju sidang tesis. Saya memang sudah tahu bahwa apa yang saya lakukan dalam penelitian kurang begitu berhasil dari segi output.

Kalau dibilang galau, ya memang galau. Meski ada waktu-waktu saya menyalahkan diri sambil meneteskan air mata, namun akhirnya saya memfokuskan diri untuk persiapan kuliah di semester berikutnya. Dan ternyata…

Kemarin, mendadak dosen pembimbing kedua saya menelepon. Meminta saya melakukan progress pada dosen pembimbing pertama saya, sekaligus menanyakan lagi apakah saya memiliki kesempatan maju sidang. Saya terkejut pada awalnya. Terlebih deadline pengumpulan draft akhir adalah hari itu. Saya langsung membuka file laporan dan kodingan, yang rasa-rasanya, sudah lama tak saya buka.

Ini kesempatan, pikir saya. Untungnya setelah saya ditolak maju sidang, saya sempat melakukan ujicoba, sehingga saya punya modal untuk progress.

“Kamu jangan ge er dulu, Ris.” ucap dosen pembimbing kedua saya saat saya hendak progress di ruangan dosen. Saya hanya mengangguk, namun di dalam hati saya, ada secercah harap yang diam-diam terbit. Sesaat sebelum itu, saya sempat (lagi-lagi) menangis setelah shalat. Meminta kekuatan, baik lisan yang lancar maupun pikiran yang jernih, untuk bisa meyakinkan kedua dosen pembimbing saya agar diperbolehkan maju sidang.

Dan akhirnya saya pun progress. Setelah sekian menit, akhirnya saya diperbolehkan sidang dengan catatan harus banyak melakukan ujicoba.

Allahu akbar!!! Alhamdulillah, ya Rabb…

Rasanya tak percaya. Bahagia ini menjadi tak terlukiskan, meskipun jalan saya untuk bisa lulus masih panjang. Diperbolehkan maju sidang bagi saya adalah bagaikan mimpi dan mimpi ini harus diselesaikan sampai akhir. Ya, agar mampu menjemput asa setelahnya.

Memang, hanya Allah-lah yang tahu apa yang terbaik untuk diri kita. SkenarioNya sungguh tak terduga bagi saya. Sepotong kalimat yang dilontarkan adik kandung saya, mendadak terngiang di kepala kala menasihati saya yang bersedih karena ditolak maju sidang.

“Inget ini, Mbak. ‘Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik pada Allah.'”

Berkah Ramadhan…

2 pemikiran pada “Akhirnya, skenario yang indah

  1. blogwalking.. iya berkah ramadhan jg TA bisa beres.. akhirnya bs ikut wisuda 107.. :’)

  2. waah, alhamdulillah.. sama 107.
    barakallah, peta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s