Mereka adalah calon generasi penebar kebaikan

Pagi kala itu menyenangkan dan membuat saya bernostalgia. Saya memutuskan untuk seharian menyibukkan diri dengan bertemu dengan orang-orang yang menginginkan kebaikan serta menginginkan kedekatan dengan RabbNya.

Episode pertama, saya bertemu insan yang pemalu. Tapi saya menyukai semangatnya untuk menjadi mentor. Mirip saya dulu, yang masih cupu dan belum tahu apa-apa. Saya dulu daftar mentor karena ingin menjadi orang baik dan juga menebar kebaikan kepada yang lain. Padahal kalau diukur dengan calon mentor yang rata-rata saya temui hari ini, tsaqofahnya cenderung lebih bagus dibandingkan saya yang dulu. Entah kenapa, dulu bisa-bisanya saya kok (tumben2nya) pede ya…

Kedua kalinya, saya bertemu dengan insan yang supel. Setiap kali disinggung suatu cerita, dia bisa berbicara kemana-mana. Anak Bandung ternyata. Dulunya aktif di taekwondo semasa SMA, namun tidak di Rohis. Saya terharu ketika mendengar dia berkata, “Saya masuk JMMI karena ingin mendapat lingkungan yang menshalihkan, mbak”. Berbeda dengan saya dulu, yang punya motivasi lain. Saat SMP, dan kebetulan Bapak saya jadi kepala sekolah, beliau mengalokasikan dana untuk menghidupkan perpustakaan dengan koleksi fiksi islami. Ah, mungkin Bapak sengaja supaya saya mengalihkan hobi baca komik. Dan akhirnya saya menikmati buku-buku tersebut, sampai-sampai mbak saya, yang tidak bersekolah sama, juga menanti buku fiksi pinjaman sekolah saya. Saya mulai mengenal, diantaranya FLP, penerbit Mizan, As-syamil sampai Gema Insani, kemudian penulisnya antara lain Asma Nadia, Gola Gong, Biru Laut, Fahri Asiza sampai Pipit Senja. Nah, saat di kampus, saya penasaran dengan label LDK dari buku fiksi yang saya baca. Apalagi saat SMA dulu, Rohis disana hampir-hampir mati sehingga rasa penasaran saya pun ikut terbunuh.

Ketiga kali, saya bertemu dengan insan yang ringkas. Ia menjawab pertanyaan dengan simpel dan to the point. Kalimat yang diutarakan cerdas, meskipun tidak banyak. Berdakwah dan lillah adalah alasan utama mengapa dia menjadi mentor. Hmmm, semoga ketika jadi mentor, dia tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan.

Keempat kali, adalah seorang tomboy yang bertransformasi menjadi akhwat. Dia memiliki keinginan kuat untuk dekat dengan Allah. Dia bercerita bahwa Allah memiliki skenario terbaik untuknya. Mulai dari bagaimana dia yang tomboy dulu, pelan-pelan memakai rok dan kaus kaki, sampai akhirnya menjadi pengurus inti di lini kaderisasi lembaga dakwah jurusan. Ya, semua orang punya cerita masing-masing bagaimana dia menjemput hidayah. Kalau saya, mendapat hidayah itu, mungkin setelah dua tahun mentoring (lama sekali ya, tapi itulah proses).

Ketika bertemu dengan orang yang menginginkan kebaikan, terselip rasa haru bercampur bahagia melihat semangat calon-calon mentor, penggerak inti dalam membina mahasiswa baru di jurusan. Mereka paham bahwa mentor bukanlah orang-orang yang sempurna agamanya. Mentor adalah salah satu proses perbaikan diri juga. Mentor adalah label, barangkali, yang menjaga kita dari perbuatan tidak baik, semisal berkata kotor, nyontek dll. Jangan sampai ada celetukan “Lho, mentor kok gitu?”. At least, semoga istiqomah dalam menebar kebaikan di jalan dakwah🙂

@28 Juni 2013, di masjid manarul ilmi tercinta

Satu pemikiran pada “Mereka adalah calon generasi penebar kebaikan

  1. Semoga mereka adalah generasi penebar kebaikan.

    Ingat Masjid Manarul Ilmi, langsung teringat dengan JMMI, dan yang pasti teringat kampus tercinta di kota pahlawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s