Di mushala kecil itu, kami membicarakan surga

#reportase

Alhamdulillah, kajian diniyah ibu-ibu binaan, sekaligus media memperat tali silaturrahim antara BPU dengan ibu binaan, berlangsung lancar. Meskipun terlambat satu jam, menjadi tak mengapa karena sesungguhnya saya  menikmati detik-detik bersama adik pembinaan BPU yang bersemangat, di mushola yang kerap kali dipanggil mushola Pak Haji Seno di Kejawan Gebang. Ketika saya mendengar cerita mereka, perkembangan BPU saya akui sungguh luar biasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dahulu saat saya masih magang di pembinaan BPU (dulu namanya DPU), saya sering disms untuk ikut kajian ibu binaan di waktu malam. Saat itu, saya tidak pernah ikut karena saya tidak terbiasa pulang malam di tahun pertama kuliah. Tahun kedua, saya tidak memperhatikan karena saya berpindah divisi. Tahun ketiga, saya baru ikut membantu, itupun karena sahabat saya menjadi koordinator putri divisi pembinaan. Tahun keempat, yah, akhirnya jadi tanggung jawab bersama saya dengan squad BPU 1112. Sampai saat itu, saya tidak pernah berpikir menjadi pemateri di kajian ibu binaan, karena saya juga tidak yakin dengan kemampuan saya. Buat saya, menjadi pembicara ibu-ibu itu syaratnya adalah komunikatif dan lucu. Kalau tidak, maka saya jamin ibu-ibu akan mengantuk saat materi, karena kajian diadakan saat malam yang merupakan waktu-waktu beristirahat.

Setelah dua kali dibujuk oleh adik-adik, akhirnya saya mengiyakan amanah menjadi pemateri, setelah juga berpikir dalam-dalam. Salah satu alasan kenapa saya akhirnya memberanikan diri menjadi pemateri di depan ibu-ibu yang usianya jauh lebih tua dibandingkan saya, adalah karena kami berposisi melingkar. Posisi tersebut justru membuat saya rileks, karena melingkar adalah kebiasaan yang menenangkan. Dengan melingkar, kita bisa melihat wajah satu sama lain, sehingga untuk berbicara menjadi lebih nyaman. Terlebih lagi, jumlah pesertanya segelintir, hanya 5 orang. Seandainya posisinya seperti kajian biasa, yang berbaris-baris, dengan pemateri di depan, bisa dipastikan saya akan grogi dan mati gaya, hehe. “Kita sama2 belajar, ya bu.” ucap saya sebelum memulai.

Mulanya dibahas terkait kunci menggapai surga, yakni syahadat. Saya tidak menyampaikan tujuh syarat diterimanya syahadat sebagaimana yang disampaikan di buku-buku mentoring, karena audiens saya adalah ibu-ibu, yang notabene bukan orang yang berpendidikan tinggi. Saya lebih menekankan ke macam-macam pintu surga dan bagaimana peran seorang istri bisa mengantarkannya ke surga selama ia taat kepada suami. Alhamdulillah responnya baik, ada yang curhat tentang suami yang susah bangun subuh karena lelah bekerja, sampai ada yang menanyakan, “Apakah bisa kami (suami+istri) berdua dikumpulkan di surga?” Wah..

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar (dari semua itu). Itulah kemenangan yang agung. (At-taubah 72)

Semoga kelak kita bisa dipertemukan di surga kelak, ya Bu. Aamiin.

2 pemikiran pada “Di mushala kecil itu, kami membicarakan surga

  1. tetap istiqomah ukh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s