Kisah Ary dan Idah : Berawal dari dakwah kecil

Idah sedang sibuk menatap layar laptop tatkala Ary, adiknya mengomel-ngomel tidak jelas.

“Huuh, persyaratannya berat amat sih.” ucap Ary sambil memukulkan tangannya ke meja. “Kalo kayak gini, aku gak ikut pelatihan keislaman saja!” Idah menoleh. Batinnya berkata, “Persyaratan itu dibuat bukan untuk membebanimu, Dek. Tapi untuk menghasilkan output yang militan dan pejuang keras.” Namun bukan itu yang diucapkan Idah, melainkan, “Terserah dek, mau ikut apa nggak.”

Idah berkata begitu dengan nada cuek, karena saat itu kondisi kesehatannya tidak maksimal. Idah juga menunggu emosi Ary stabil. Apalagi susah mengalahkan adik laki-lakinya yang temperamennya tinggi. Padahal sebelumnya, Idah selalu mengajak adiknya untuk mempersiapkan diri mengikuti pelatihan tersebut yang diadakan di semester dua, bahkan sudah saat adiknya masih di semester satu. Idah sampai mengecek hasil pengumuman peserta yang lolos pelatihan, dan ia sungguh gembira melihat nama adik laki-laki satu-satunya di list peserta tersebut.

Tapi Ary marah-marah menjelang jam-H. Heran dengan seabrek persyaratan yang membelenggu kebebasannya. “Aku juga males kalo harus nginep sampai dua malam. Jadi nggak bisa ngerjain tugas, karena deadlinenya hari Senin…” Akhirnya dibiarkannya Ary menumpahkan perasaannya sementara Idah bergelut dengan laptopnya. Ketika Ary selesai, Idah menawarkan bantuan. Dibantunya Ary memprint lembar peserta, menyiapkan al-Matsurat dan Hadist Arbain, serta mengecek barang bawaan adiknya. Akhirnya adiknya pun tetap berangkat, meskipun terlambat.

Ini adalah sekelumit cerita bayangan tentang bagaimana usaha mengajak saudara untuk mencari ilmu agama di luar kegiatan kuliahnya yang padat. Sekilas sederhana, namun apa jadinya ketika Idah meladeni adiknya dengan emosi? Pasti buntutnya malah berantem dan adiknya menjadi malas berangkat, bahkan lebih parah lagi, ia akan menghindari segala bentuk kajian keislaman.

Ketika mengajak, kita perlu mengetahui kondisi objek dakwah dan memahami karakternya. Dakwah keluarga bukan hal yang mudah, namun bukan berarti menjadi hal yang mustahil. Dengan hal-hal kecil pun, kita tetap bisa berdakwah misalnya mengsms taujih ke kerabat, silaturrahim ke rumah, atau menunjukkan akhlak yang baik sebagai seorang muslim. Kegagalan berdakwah yang terjadi seperti dalam kisah Nabi Luth dengan istrinya, Nabi Nuh dengan anaknya atau Nabi Muhammad dengan pamannya, bukan lantas menjadi alasan bagi kita untuk berhenti. Tidak! Hidayah memang hanya diturunkan dengan ijin Allah, namun ikhtiar perlu kita lakukan terus menerus sembari mendoakan objek dakwah agar segera meraih hidayah tersebut.

Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” [At-Tahrim: 6]

Semoga dengan satu momen ini, bisa membuka semangat menuai kebaikan pada peserta pelatihan keislaman yang berlangsung saat ini, serta mengenalkan warna dan memberi motivasi untuk bergerak di dunia dakwah kampus🙂

Satu pemikiran pada “Kisah Ary dan Idah : Berawal dari dakwah kecil

  1. dan sekarang adikku sudah menjadi bagian dari perjuangan dakwah kampus ^^, alhamdulillah, semoga istiqomah bro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s