Pacaran = pake sepatu

Berita orang pacaran itu ternyata semacam berita negara api menyerang -_-

Terlebih kalau itu dialami saudara kita sesama muslim
Terlebih ke teman kita
Terlebih ke ADK satu wajihah
Terlebih ke saudara kita

Sediih, hikss😥

Saya mau share gimana pandangan saya tentang pacaran, meskipun telah banyak buku, kajian, status, atau kultweet yang sudah membahas ini…
Saya memandang pacaran itu membuang banyak hal. Materi, waktu, perhatian, tenaga, pikiran dll.
Saya memandang pacaran itu memuaskan nafsu saja. Menyampaikan cinta dengan sikap? Omong kosong banget. Cinta tertinggi tuh ke Allah semata. Kedua ketiga terserah anda, dengan catatan, cintailah makhluk karena Allah. Bukan mencintai Allah karena makhluk. Karena hubungan yang diridhai Allah antar dua makhluk beda gender cuma satu : Nikah.
Saya memandang pacaran itu bukan mengangkat nilai martabat seperti kata orang. Banyak yang bilang, punya pacar berarti udah laku. Helloo, emang kita barang apa? Pacaran malah merendahkan kualitas iman kita. Pacaran bahkan bisa menjadi lumbung dosa, karena pacaran termasuk mendekati zina. Jangan salah, seks bebas juga seringkali lahir dari gaya pacaran.
Saya memandang pacaran itu tidak memotivasi kita. Masih ada orang tua, saudara, dan kawan yang dengan senang hati memotivasi kita yang sering lelah. Merekalah yang lebih berjasa dalam kehidupan kita. Terlebih masih banyak buku-buku motivasi bertebaran yang mampu membuat kita semangat lagi. Kalo masih merasa kurang, coba munculkan motivasi karena Allah🙂
Saya memandang pacaran itu berarti siap dengan konsekuensi putus. Sakit nggak sih putus itu? Saya tidak pernah merasakan sih. Tapi kalo putus itu seperti putus hubungan dengan sahabat yang kita sayangi, atau putus dengan orang tua yang kita cintai (karena jarak atau usia), maka putus itu pasti akan menyakitkan.
Saya memandang pacaran itu bukan media pengenalan diri yang tepat. Oke, kelebihan pacar bisa kita terima dan membuat kita makin cinta. Namun pacaran juga bikin kita tahu keburukan pasangan. Keburukan itu seringkali kurang diterima, malah kalo sudah putus, keburukan itu menjadi aib yang mudah tersebar. Berbeda kalo nikah. Kita jadi harus  belajar menerima kekurangan orang lain dengan ikhlas karena menikah itu ibadah.
Saya memandang pacaran itu seperti pakai sepatu. Kalo suka diambil, kalo sudah tidak suka atau bosan, silahkan ditinggalkan.

Media saat ini juga seakan telah menghalalkan pacaran. Yang baik dan yang buruk seringkali kabur batasannya. Padahal memang sebenar-benar pedoman hidup bukan media, tapi Al-Quran dan Hadist. Maka hati-hati dalam bersosialisasi. Jangan remehkan pacaran. Syaithan tidak akan pernah berhenti menggoda kita dari arah manapun.

Jangan takut nggak laku karena nggak pacaran. Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik buat kita. Lelaki yang baik pasti untuk wanita yang baik. Kalo dalam ceritanya “Bidadari-bidadari surga”, jika kita sulit mendapat jodoh karena suatu hal, entah karena fisik, budaya, usia, sifat dll, maka cukup poleslah diri kita dengan amalan-amalan dan ruhiyah yang terjaga. InsyaAllah jika tidak di dunia, di akhirat juga telah disiapkan bidadari/a yang siap menemani kita.

Saya memandang pacaran itu…

#akan ditambahkan lagi kalo ingat :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s