Bukan fanatik?

Agaknya banyak orang akan lebih memilih menjadi moderat. Orang yang entah sebutannya biru, abu-abu atau warna lainnya (memang warna kami apa?). Orang yang tidak mau cenderung ke salah satu karena takut dianggap fanatik. Bagi saya, jika itu adalah kebenaran dan bisa saya terima secara pikiran, maka fanatik adalah kewajiban. Menjadi moderat buat saya adalah sama saja dengan oportunis. Dia bisa menempatkan dirinya untuk mendukung, namun kadangkala dia diam tak mau bergerak karena beralasan bukan fanatik. Dia tak mau menjadi bagian perjuangan, boleh jadi karena dia cuma mencari wilayah yang aman. Dia lupa bahwa Islam itu harus syumul dalam kehidupan, menyeluruh ke semua bagian, bukannya separuh-paruh.
Moderat itu buat saya juga sama saja pasti ujung-ujungnya fanatik. Dia akan fanatik dengan kemoderatannya. Bangga dengan posisinya, padahal jelas-jelas tempat dia berada adalah wilayah abu-abu. Wilayah yang tak jelas bagaimana tujuannya, pegangannya, teladannya, perannya, visinya dll.

Yang penting bukan fanatik, titik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s