Islam, Gue Banget!

“Bapaknya berpindah agama terus. Dari Kristen, Hindu hingga Islam. Disanalah dia menemukan apa yang sesuai dengan logikanya. Namun dia tahu keyakinan barunya ini akan membawa masalah. Ibunya yang kristen pernah mengatakan, bolehlah kamu masuk agama manapun tapi janganlah kamu masuk Islam…” kata beliau.

“Pengetahuan agama Islam beliau sangat mendalam. Saya yang Islam dari lahir saja kalah. ” lanjut beliau lagi dengan mata menerawang. Lalu kemudian ada satu tanya. “Jangan2 Islam fanatik ya, Pak?”

—————————————

Saya tersentak dengan kalimat ini. Ketika mendengar frase islam fanatik, yang tergambar di kepala kita pasti Islam garis keras atau teroris. Islam yang dinilai terlalu berlebihan dalam mengikuti aturan yang bersumber dari Al-quran dan hadist. Umumnya orang akan takut dengan kata islam fanatik, sehingga agama bagi mereka sengaja dimunculkan hanya di ritual ibadah saja. Mereka khawatir jika dianggap islam fanatik, maka akan ada stigma buruk yang muncul di jidat mereka. Siapa sih yang mau disamakan dengan teroris islam di indonesia? Atau ambillah contoh kecil lain, islam garis keras seperti FPI atau yang islam lain yang banyak aturan. Yang nggak boleh inilah, itulah. Hal inilah yang menjadikan secara tidak sadar bagi mereka, apa yang disebut sebagai sekuler yaitu pemisahan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Islam rahmatan lil alamin sesungguhnya adalah satu. Islam bukanlah terkotak-kotak.  Islam adalah agama yang mempercayai Allah sebagai Rabb dan Muhammad sebagai rasulullah pembawa wahyu terbesar yakni Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri bagaikan manual book bagi kita hidup di dunia. Manual book agar kita dapat menjalani hidup ini dengan sebenar-benarnya hakikat, yakni beribadah kepada Allah. Melakukan segala hal dengan ridha Allah. Menjadikan iman sebagai dasar melakukan segala sesuatu, bukan lagi nafsu.

Memang umat islam saat ini susah bersatu (tapi hal itu bukan berarti tidak mungkin). Hal ini terjadi karena kebanggaan mahzab, harokah, ulama rujukan dll. Jika dirunut dari sejarah, perbedaan tersebut terjadi ketika para sahabat Rasulullah sepeninggal Umar, diperbolehkan berdakwah ke luar Mekkah dan Madinah. Sehingga muncullah banyak muslim yang sombong dengan membangga-banggakan gurunya. “Saya murid sahabat ini, dan sahabat itu”. Maka benarlah sabda Rasulullah, bahwa sahabat Umar Bin Khattab adalah penutup fitnah.

Menyatukan islam dari perbedaan tersebut bukan pekerjaan mudah. Apalagi jika harus bersinggungan dengan segolongan umat Islam yang keukeh dengan prinsipnya sehingga tidak mau menerima muslim lain selain dari golongannya sebagai kawan perjuangan. Islam haruslah bersatu. Bukan lagi saatnya kita melihat perbedaan, lalu memandang rendah muslim di luar golongan kita. Lihatlah kenyataan bahwa kita sama-sama muslim. Sama masih mengenggam erat rukun Islam dan rukun Iman di hati kita.

Perbedaan inilah yang boleh jadi membuat orang awam menjadi bingung dengan Islam. Kebingungan yang akhirnya berubah menjadi ketakutan dengan Islam. Takut menjadi muslim yang kaffah sehingga dia lebih memilih menjadi muslim biasa atau musllim KTP. Dia tak pernah benar-benar menjadikan Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedomannya padahal itulah sebenar-benarnya tuntunan bagi seorang muslim untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Selain itu, ketakutan terhadap islam juga sudah dibuat dengan penggiringan opini media dengan kalimat “Islam adalah teroris”. Hal ini menyebabkan banyak dampak negatif. Orang kebanyakan tak bangga akan keislamannya. Mereka cenderung menutupi kepada yang lain. Jihad bagi mereka adalah kegiatan teroris, jilbab bukanlah kewajiban, atau mereka cukup dengan statemen “yang penting shalat lima waktu dan puasa”. Ketika melihat yang lain bangga dan memperlihatkan atribut keislamannya, mereka berceloteh, “Sok soleh tuh! Islam fanatik ya?”

Mengutip status seseorang:

Seorang teman bertanya “tujuan hidup ini apa sih sebenarnya?”
Gue : “ibadah”
Temen : “masa’ ibadah mulu’,emang gk kerja, cari kesuksesan cari kekayaan ”
Gue : “kerja kan juga ibadah”
Teman : “ya bedalah, kerja kerja..ibadah ibadah”
Gue : (-,-)?*terserah loe deh,susah ngomong sama orang yg pikirannya sempit.

Begitulah. Ketika seseorang jauh dari Al-Qur’an dan Hadist, maka ia akan menjadikan dunia sebagai orientasi. Barangkali akhirat baginya adalah semu, atau apakah ia mengira surga itu mudah diraih? Dan ketika seseorang jauh dari pedoman hidupnya, sehingga berbuat salah, maka jangan salahkan agamanya. “Si anu orang Islam, tapi begini begitu…” Salahkan kenapa pedoman itu tak benar-benar ia terapkan dalam hidupnya. Kenapa ia mau dibawa opini tentang kerendahan Islam sebagai agama teroris. Kenapa ia tak menengok sejarah Islam lalu yang peradabannya adalah sebenar-benar adab, bukan biadab seperti peradaban saat ini yang menghalalkan apa yang haram dan mengharamkan apa yang halal.

Kuncinya, banggalah dengan keislaman kita, kembali ke Al-Qur’an dan Hadist dan bersatu! Sehingga kita mampu meneriakkan dengan bangga, “Islam, Gue banget!!”

#ditulis karena kejengkelan dengan celetukan “islam fanatik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s