Ghibah? Jauh-jauh deh

Image

Terkadang kita tak nyaman dengan perilaku seorang teman kita. Kemudian kita menyatakan hal itu kepada teman kita yang lain. Mungkin niat kita saat itu hanya sekedar curhat dan menumpahkan isi hati. Namun, pernahkah kita sadar bahwa bisa jadi kita telah melakukan ghibah?

Jika ada sikap dari teman kita, apalagi sesama aktivis dakwah, yang tak berkenan di hati, maka jangan menunggu dia meminta maaf pada kita. Jangan menunggu dia berubah. Apalagi dibiarkan begitu saja sampai sikap buruknya itu juga merugikan orang lain. Bicarakan baik-baik padanya, dengan hati-hati dan niat penuh ketulusan. Lebih baik begitu, daripada kita membicarakan perilakunya di belakang.

Bolehlah kita membicarakan perilaku baiknya untuk menginspirasi yang mendengar, atau mengambil manfaat darinya. Namun jika sudah tersandung keburukan, memang seringkali segudang kebaikan itu terhapus seketika oleh setitik cela. Jika memang ingin membicarakan keburukan seseorang, maka alangkah baiknya dengan niatan untuk meminta tolong pada teman bicara untuk menemukan solusi. Atau dengan tujuan agar teman lain tak melakukan hal yang sama, sambil menyamarkan nama si pelaku keburukan. Tak ingin bukan, dibicarakan teman sendiri di belakang, dengan keburukan-keburukan kita?

Kasus ini sering dilakukan di kaum hawa. Nama lain yang populer dari ghibah adalah ngrasani. Kebiasaan ngrasani ini sudah telanjur jadi tradisi kaum hawa ketika bertemu sesamanya. Akhirnya orang jadi tahu sama tahu kelakuan jelek si A, si B dll. Biarlah kita tidak tahu berita keburukan orang lain, daripada harus memakan daging saudara sendiri (Ini juga bisa berlaku di kalangan adam). Memberi maaf atau menyembunyikan suatu keburukan adalah juga lebih baik daripada mengghibah teman sendiri.

Sekali lagi, mari berhati-hati dengan lisan kita. Karena lisan itu lebih tajam dari pedang. Luka pedang boleh jadi sembuh seiring waktu, namun luka akibat lisan, siapa yang tahu?

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al Hujuurat 12]

Wallahu a’lam bishshawab…

#Berkaca dari pengalaman rasan-rasan. Sakit sekali jadinya saat kita tahu ada teman yang membicarakan kita di belakang😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s