Siapa sajakah mahram wanita?

Image

Maaf, jika gambar agak tidak mendukung postingan. Habis unyu sih. Sekalian promosi gitu, hehe :p

Postingan kali ini membahas tentang mahram. Wanita boleh menampakkan aurat di hadapan mahram dan tidak boleh menampakkan kepada selain mereka. Terkadang kita lupa, siapa saja ya mahram kita (muslimah, red)? Apalagi sekarang mau musim lebaran, musimnya silaturrahim sama keluarga dekat dan jauh. Perlu tahu nih siapa yang termasuk mahram kita. Nah, berdasarkan surah An-Nuur 31, mahram wanita diantaranya adalah:
1. Suami
2. Ayah dari istri. Yaitu ayah atau ayah dari ayah seperti kakek atau ayah dari kakek.
3. Ayah dari suami, yaitu dari suami dan kakek-kakeknya.
Namun, jika wanita melihat ayah suaminya memiliki sifat fasik dan dzalim, serta berusaha menampakkan kemudaan, maka disarankan agar wanita menjaga diri dan tidak menampakkan perhiasan di hadapannya. Semoga mereka termasuk ke golongan yang dikasihi Allah.
4. Anak-anak suami, yaitu anak suami yang laki-laki, termasuk anak dari anak dan seterusnya ke bawah, baik laki-laki maupun perempuan.
5. Saudara-saudara laki-laki dari istri, meskipun berbeda seperti saudara laki-laki seayah atau seibu.
6. Anak dari saudara laki-laki istri yaitu anak saudara laki-laki sekandung, atau seayah atau seibu dan seterusnya ke bawah, baik laki-laki maupun perempuan, seperti anak saudara perempuan dan anak dari anak perempuan dari saudara perempuan.
7. Hamba sahaya yang dimiliki, namun masa ini telah berakhir dan kita tidak memerlukannya.
8. Pelayan yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita karena akal mereka yang lemahdan tidak mempunyai syahwat. Ada yang mengatakan, bentuknya orang yang sudah tua atau anak kecil yang belum mengerti apa-apa.
9. Anak kecil (belum baligh) yang belum mengerti aurat wanita.
10. Saudara penyusuan laki-laki, karena diangggap sebagai mahram, maka tidak boleh mengawininya. Akan tetapi jika diketahui adanya perbuatan keji dan fasik darinya, maka diharuskan untuk mejaga diri terhadapnya.
11. Saudara laki-laki ayah dan saudara laki-laki ibu.

Sumber : Fiqh Muslimah oleh Ustadz Ibrahim M. Al-Jamal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s