Ketika kecukupan akhirat yang dipilih

“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus: 7-8).

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

Dunia adalah fana. Namun tak banyak orang yang menyadari bahwa kenikmatan dunia hanya sementara. Padahal, kampung yang kita tuju sesungguhnya adalah kampung akhirat. Inilah kisah yang  Umar bin Khattab lebih memilih hidup dalam kecukupan dibandingkan bergelimang harta di dunia. Semoga bisa menjadi pembelajaran.

Kemilau Budi Pekerti Luhur

Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab tidak punya waktu lagi untuk berdagang. Hari-harinya disita oleh urusan pemerintahan dan umat. Maka, pada suatu hari, beliau berbicara di depan rakyatnya, “Wahai, Saudara-saudara. Aku telah kalian percayai untuk memangku jabatan selaku khalifah, yang membuatku tidak bisa lagi mencari nafkah bagi kehidupan keluargaku. Jadi bagaimana pendapat Saudara, apakah anak-istriku akan dibiarkan terlunta-lunta?”

Para sahabat utama, seperti halnya yang lain, terdiam sambil memutar akal. Akhirnya disetujui untuk memberikan imbalan serta tunjangan bagi Khalifah, yang diambilkan dari Baitul Mal. Tadinya jumlah yang diusulkan para sahabat utama hampir sama besarnya dengan gaji yang biasa diberikan kepada raja di negeri Ajam. Ali bin Abi Thalib tidak setuju dengan cara berdiam diri sejak mula pertama.

Umar lalu bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Ali? Dari tadi hanya engkau yang tidak berbicara.”

Dengan tegas, Ali menjawab, “Saya tidak suka seorang khalifah hidup berlebihan seperti para kaisar dan raja-raja.” Umar menjawab gembira, “Bagus. Engkau telah mewakili pendapatku. Aku minta tunjangan bagiku hanya cukup untuk hidup sederhana.”

Demikianlah akhirnya keputusan musyawarah. Khalifah memperoleh imbalan yang pas-pasan saja sehingga beliau dapat dengan tenang memimpin pemerintahan. Baanyak kemajuan yang telah tercapai selama periode Umar. Kehidupan rakyat cukup makmur. Wilayah kekuasaan Madinah meluas sampai ke Mesir. Pendapatan negara kian membesar dengan penggalian sumber-sumber penghasilan dari berbagai pajak, zakat dan perdagangan antar negara. Namun Umar bin Khattab dan keluarganya tetap compang-camping menurut ukuran para kepala negara lainnya.

Melihat hal itu, Ali bin Abi Thalib mengusulkan pada para sahabat untuk menaikkan tunjangan Khalifah sebanyak dua kali lipat. Usul ini disetujui, terutama oleh Usman bin Affan sebab ia sering berhubungan dengan para utusan yang serba mewah.

Namun, mengingat waktu Umar, mereka tidak berani menyampaikan hal itu kepada Umar. Mereka bermufakat untuk mendatangi Khafsah, putri Umar, janda Rasulullah SAW. Melalui Khafsah, niat itu diungkapkan dan supaya disampaikan kepada ayahnya, Umar bin Khattab. Dengan pesan, untuk tidak mengatakan nama-nama para sahabat yang mempunyai prakarsa tersebut.

Dugaan para sahabat ternyata benar. Umar marah ketika Khafsah menyampaikan usul kenaikan gaji kepadanya.
“Kalau aku tahu nama orang-orang yang mempunyai pikiran beracun itu, akan kudatangi mereka satu persatu, dan kugampar mereka dengan tanganku.” Lalu… Umar menatap Khafsah dan bertanya, “Khafsah, selama engkau menjadi istri Rasululah, makanan apa yang biasa beliau santap?”

Khafsah menunduk. Matanya berkaca-kaca. Ia teringat dengan kehidupan Rasulullah yang kelewat sederhana. Dengan terbata-bata, Khafsah menjawab, “Roti tawar yang keras, dan untuk memakannya harus dicelupkan dulu ke dalam air minumnya.”

“Khafsah, pakaian apa yang paling mewah bagi beliau?” tanya Umar lagi.

Khafsah makin tertunduk. “Selembar jubah berwarna kemerahan karena sudah luntur. Itulah yang dibangga-banggakannya untuk menerima tamu kehormatan.”

“Apakah Rasulullah tidur di atas tilam yang empuk?”

Khafsah menangis, “Tidak! Rasulullah hanya beralaskan selembar selimut tua. Jika musim panas, dilipatnya menjadi empat lapis supaya agak nyaman ditiduri. Bila musim dingin tiba, dilipatnya menjadi dua untuk alas dan penutup badannya.”

Umar bin Khattab lalu berikrar, “Khafsah… Aku, Abu Bakar dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Karena itu harus menempuh jalan yang sama. Musafir pertama telah tiba di tempat tujuan sebagai pelopornya. Yakni Rasulullah. Musafir kedua telah mengikuti jalannya dengan seksama sehingga ia telah berkumpul bersama musafir pertama. Dia adalah Abu Bakar. Sebagai musafir ketiga, jika aku tidak meniti jalan yang sama, akankah aku dapat bergabung dengan mereka? Tidak, Khafsah. Katakan kepada para sahabat yang mengusulkan kenaikan gajiku, bahwa Umar bin Khattab lebih memilih kecukupan di akhirat daripada bermewah-mewah dalam fatamorgana.”

Dikutip dari : 30 Kisah Teladan, K.H. Abdurrahman Arroisi

2 pemikiran pada “Ketika kecukupan akhirat yang dipilih

  1. Bercucuran air mataku membaca uraian kalimat Hafsah ra tentang kehidupannya bersama Rasulullah…

    Betapa umatnya sungguh terjangkiti al wahn…

    Dan kita meminta surga dan dikumpulkan bersama beliau dan para sahabat….😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s