Kalau sombong, jangan!

Image

Sedih karena saya baru tahu kejelekan sikap saya, tapi nasihat beliau memotivasi saya untuk berubah. Berubah menjadi insan yang lebih baik. Seseorang yang bijak mengingatkan langsung pada saya untuk menjauhi rasa sombong. Manusia memang tak pernah luput dari salah.Saya pernah merasakan sensasi tinggi. Sensasi merasa lebih hebat, ya, saya pernah. Malu.

Berangkat dari nasihat itu membuat saya harus menegaskan pada diri, bahwa saya bukanlah apa-apa. Tidak boleh ada sedikitpun rasa sombong atau lebih tinggi, meskipun itu seberat biji zarrah pun. Karena apa-apa yang dititipkan pada saya, pasti akan diambil karena apa yang ada di bumi dan langit itu kesemuanya adalah kepunyaan Allah. Saya hanya meminjam. Saya hanya titik. Titik kecil di planet bumi, yang jika diteropong dari luar galaksi Andromeda saja, maka titik itu akan menghilang karena saking terlalu kecilnya.

Belajar dari sini, jangan pernah meremehkan apapun itu bentuknya. Karena ketika kita sudah mulai menganggap suatu hal itu mudah, maka selanjutnya kita akan terlena. Dan pada akhirnya apa yang seharusnya bisa dibuat mudah, malah jadi bumerang sendiri buat kita.

Belajar menjadi rendah hati, bukan sekedar merunduk karena banyak ilmu seperti padi. Menjadi rendah hati itu harus dengan keistiqomahan. Sedikit ada rasa unggul dalam hati kita, maka bersegeralah untuk menghapus rasa itu. Karena itu akan mendorong kita berbangga dan lupa diri. Lupa diri bahwa dibalik kesuksesan kita, tak hanya semata-semata didukung oleh anugerah yang kita miliki, tetapi juga atas izin dan kehendak Allah sebagai Sang Pencipta.

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Hakekat Kesombongan

Paragraf berikut menerangkan definisi kesombongan dari artikel Jauhilah Sikap Sombong — Muslim.Or.Id. Semoga bisa membuat diri kita untuk lebih berhati-hati terhadap sifat sombong.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)

Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s