Antara garis kemiskinan dan batas iman

Pergerakan “mereka” sungguh massive. Begitu kesimpulanku ketika mengunjungi salah satu daerah binaan JMMI. Cerita dari adik-adik mengalir begitu saja, tentang bimbingan belajar lain. Bimbel gratis yang bersaing dengan pengajaran BPU JMMI di masjid, karena diadakan pada waktu yang bersamaan. Bimbel yang tentu akan menarik hati adik-adik karena selalu ada bawaan tangan menanti dibawa pulang. Entah itu tepak, buku, atau sekardus makanan.

“Aku pernah diajari kalimat, ‘Aku cinta ***, Mbak. Takpraktekkan sebelum tidur, langsung ditapuk (ditampar, red) sama Bapak. Pernah juga aku bilang ke Ibu, ‘Jadi orang *** itu enak, Bu, bisa kaya. Kalo kita doa ke Tuhan mereka, pasti langsung dikabulkan.’ Ibu langsung marah-marah, Mbak.'”

“Yang ngajar banyak bulenya mbak. Kita diajari nyanyi bareng-bareng.”

“Dapet hadiah tiap hari, mbak. Enak disana…”

“Kalo anak-anak yang bimbel di sana pada ke sini, Mbak. Aku yakin masjid ini nggak bakal cukup nampung mereka. Banyak lo, mbak.. Ruang aula mereka besar banget dan itu penuh…”

Cerita lain, ada nenek yang sakit dan operasi, “mereka” membantu dan akhirnya nenek itu masuk ke agama “mereka”. Atau cerita usaha “mereka” mengangkat anak yang rajin bimbel dengan diimingi pendidikan dan hidup layak.

Pastilah banyak sekali dana yang mereka keluarkan untuk mereka ‘berdakwah’. Dan lagi salah satu sasaran mereka adalah anak kecil kurang mampu yang tidak tahu apa-apa. Mereka memang bermuka ramah. Menyuap anak-anak dengan banyak hadiah lantas diajak secara pelan-pelan untuk mempelajari agama “mereka”, meskipun hanya dengan selintas dongeng atau nyanyian. Ini benar-benar bukan sinetron, atau mindset negatif tentang pergerakan “mereka” yang selama ini ditulis media Islam. Ini teramat begitu nyata. Begitu banyak usaha “mereka” untuk mengajak orang tak mampu ke agama mereka dengan mengambil titik kelemahan umat ini, kemiskinan yang membelenggu.

Kami, para pengajar, masing-masing sibuk mendengarkan curhat adik binaan yang hampir semuanya pernah ikut bimbel di sana. Sejenak, aku menekuri lantai masjid yang sepi. Mengulas momen launching pengajaran pertama di masjid ini, saat aku masih baru menjadi pengurus JMMI. Kala itu, banyak sekali adik-adik yang datang. Lantas seminggu berikutnya, jumlah adiknya berkurang dan terus berkurang seiring berjalannya waktu. Barangkali selama ini, banyak yang sedang asyik belajar di sana.

Dan tanpa kusadari, mungkin telah banyak orang tak mampu yang menggadaikan imannya dengan uang.

#ilustrasi gambar : http://fatayat.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s