Jilbab pertamaku jilbab simsalabim

Image

            Ini adalah tulisanku yang terpaksa kubuat untuk dikirim ke keputrian JMMI. Sebenarnya memang bukan cerita yang mengharukan, menguras air mata terlebih lagi menginspirasi. Karena temanya tentang jilbab pertama, maka wajar ceritanya agak datar, karena jilbab pertamaku adalah jilbab yang kupakai saat aku masih kecil. Maaf ya, memang tidak ada bakat mengarang indah😥

           Jilbab saat masih kecil hanya kuanggap sebagai penutup kepala. Tidak lebih. Tidak ada rasa kebanggaan atau bahkan kesadaran lebih untuk mengenal maknanya. Maklum, tidak ada kisah yang istimewa antara aku dan jilbab pertamaku karena aku lahir di keluarga yang menanamkan nilai islami sedari kecil. Jadilah sejak kelas 3 SD, aku sudah mengenakan jilbab sebab hal itu sudah menjadi peraturan bagi siswi di sekolahku berada. Karena itulah aku menyebut jilbab pertamaku jilbab simsalabim karena tak mengalami proses yang panjang dan menganut asas sami’na wa athona pada peraturan sekolah.

            Penjelasan tentang makna jilbab itu sendiri beserta kewajibannya kudapatkan dari majalah dan novel islami saat menginjak sekolah menengah pertama. Barangkali orangtua, atau guruku sudah pernah menjelaskan dengan gamblang padaku tentang arti jilbab, namun aku baru bisa memahami urgensinya bahwa jilbab itu  wajib bagi perempuan muslim dan berfungsi untuk menutup aurat. Dan sekedar tahu ternyata tak cukup. Aku belum menerapkannya dengan benar karena aku masih gemar memakai celana saat keluar rumah. Tidak juga terlalu perhatian dengan penjagaan aurat. Istilah lainnya yang penting pakai ‘baju ala kadarnya’.

            Namun aku mulai melihat sesuatu yang berbeda dari penampilan kakak perempuanku saat SMA. Ya, aku punya kakak perempuan. Kami cuma beda setahun tujuh bulan sehingga hanya beda satu tingkat pendidikan. Dulu kami sering barengan naik sepeda motor jika berangkat sekolah. Dia di SMA 6, aku di SMA 9. Lucu deh mengetahui bahwa angka SMA kami sama jika dibalik 180 derajat. Yang kuperhatikan darinya adalah gayanya berpakaian. Suatu hari tiba-tiba dia mengenakan celana training di balik rok abu-abunya saat akan berangkat sekolah.

            “Mbak, ora sumuk tho?” tanyaku geli melihatnya mengendarai sepeda motor sambil memamerkan sebagian celana trainingnya yang bagian bawahnya dibalut kaus kaki putih.

            “Ga. Aurat dik” ucapnya singkat ditelan keramaian lalu lintas.

            Jadi kakakku ini tidak pernah memakai celana saat keluar rumah. Ia gemar memakai rok dan telaten memakai kaus kakinya dimanapun dia berada saat di  luar rumah. Saat ia mulai kuliah di kedokteran, kerudung yang dipakai pun mulai terlihat lebih lebar. Mulai rajin menerapkan ibadah sunnah di rumah. Yang pasti beliau berubah seperti muslimah yang ciri-cirinya mirip dengan karakter dalam banyak kisah fiksi islami yang sering kubaca saat kecil. Aku pun mendengar bahwa dia aktif di kegiatan dakwah sekolah.

            Nah lo, pas aku keterima di kampus ITS, di awal masuk kuliah…

            “Wajib pake rok bagi yang putri. Hem cerah. Jangan lupa pake sabuk. Terutama nametag.” jerit seorang senior saat forum pengkaderan di kampus. Wajahku pias seketika karena koleksi rok yang bisa terhitung jari sehingga saat awal kuliah aku sudah mencicil untuk menabung agar dapat dipakai membeli rok dan hem.

            Akhirnya koleksi rokku lumayan banyak, dan setahun kemudian tak kusangka celana yang dulu sering kukenakan sebelum masuk kuliah sudah tak layak pakai. Setahun lamanya memakai rok membuatku merasa tidak nyaman ketika mengenakan celana. Barangkali tidak biasa lagi bagiku mengenakan kain bawahan yang melilit pergelangan kaki.

            Pada akhirnya di keseharianku, meski sudah bukan menjadi maba lagi, aku tidak pernah lagi memakai celana panjang. Aku malah mencoba memahami mengapa kakak perempuanku sampai rela memakai kaus kaki kemana-mana. Mengenakan celana training yang tebal dibalik roknya demi menutupi kakinya. Baju yang longgar dan tidak transparan. Kerudung yang menjuntai hingga menutupi dada. Dan jawabannya satu. Karena itulah identitas muslimah sejati.  

            Merasa terbatasi? Tidak! Justru itulah cara Allah menyayangi kita. Menjaga kehormatan kita. Wujud kita bersyukur atas nikmatNya. Meneladani istri nabi. Dan seabrek alasan berjilbab lainnya. Dan alhamdulillah kini jilbabku tak sekedar simsalabim lagi, namun sudah menjadi bagian penting dari hidupku. Dan aku bangga mengenakannya. Jilbabku bukan hanya karena kewajiban semata, tapi aku memilihnya karena aku mau dan menikmatinya. Jilbab, I’m in love.

#gambar diatas adalah gambar yang kubuat semasa maba dan pakai MS Paint

2 pemikiran pada “Jilbab pertamaku jilbab simsalabim

  1. Nurisssss……selalu terharu membaca kisah muslimah memaknai jilbab.. T.T

  2. Eh, ada icon muslimah ITS 11-12 mampir😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s