Sudah siapkah kita dipanggil?

Image

Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Al-Jumu’ah : 8)

Abdullah bin Amr bin Ash ra. berkata kepada ayahnya yang saat itu berada dalam kondisi sakratul maut, ” Wahai, ayahku. Saya memohon kepadamu demi Allah! Agar kamu menggambarkan kematian kepadaku, sungguh kamu di tengah-tengah kematian yang tidak dapat dipungkiri lagi.”
Amr bin Ash ra. menjawab, “Demi Allah wahai anakku. Seolah-olah gununng-gunung yang ada di dunia ini diletakkan di atas dadaku dan seolah-olah aku bernafas dari lubang jarum.”

Suatu ketika Umar bin Khattab ra. berkata kepada Ubay bin Ka’ab ra., “Wahai Ubay, saya memohon kepadamu supaya kamu menggambarkan kematian kepadaku.”
Maka Ubay bin Ka’ab ra. menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, perumpamaan mati itu bagaikan ketika ada sebuah pohon yang durinya sangat banyak di dalam mulut anak Adam. Tidak mempunyai urat dan tidak pula mempunyai persendian. Dia ibarat seorang lelaki yang sangat kekar dan kuat dua sikunya. Lalu dia memasukinya dan mencabutnya. Setiap duri dicabut semua urat dan persendiannya. Sehingga setiap duri keluar dengan membawa urat.”
Maka sang khalifah Umar binn Khattab ra. menangis dan hampir saja dia pingsan.

Sumber: “Jadilah Pemuda KAHFI”, Dr. A’idh Al-qarni, M.A

Ibnu Umar berkata, “Aku datang menghadap Rasulullah Saw sebagai orang yang kesepulu dari sepuluh orang. Berkatalah seorang laik-laki dari sahabat Anshar, “Siapakah yang paling cerdas di antara orang-orang cerdas dan yang paling mulia di antara manusia, Ya Rasulullah?”. Beliau bersabda, “Yaitu mereka yang paling banyak mengingat mati dan yang paling kuat dalam mengadakan persiapan menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas. Mereka pergi dengan membawa keagungan dunia dan kemuliaan akhirat.”

Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah mengingat hal yang dapat menghancurkan segala macam kelezatan.” Artinya, keruhkanlah segala bentuk kenikmatan dengan mengingat mati, sehingga hilanglah kecondonganmu pada kenikmatan itu dan hanya menghadap pada Allah Swt. Dengan mengingat mati, akan mendorong kita untuk menjauh dari perkampungan dunia yang menipu dan menuntut kita untuk melakukan persiapan menuju akhirat.

Sumber:  “Di balik ketajaman mata hati”, Imam Al Ghazali

Lalu bagaimana persiapan kita menyiapkan amal-amal untuk menjemput akhirat? Sudah siapkah kita ketika sewaktu-waktu dipanggil Allah kelak? Sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah kita lakukan di dunia?😥

Setiap yang berjiwa (yang bernyawa) akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

(Ali-Imran:  185)

Semoga kita bisa senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas amal kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s