Kajian Modernisme dan Postmodernisme

ImageBismillah.. Ini ada sedikit catatan dari kajian singkat yang menarik buat saya. Tentang modernisme dan postmodernisme. Loh, apaan ya? Makanya, simak dulu ya, gan…

Modernisme

Peradaban barat mengadopsi dua peradaban kuno yakni Yunani dengan filsafat dan seni, dan Romawi dengan hukum dan tatanegaranya. Inilah transisi masuknya bangsa barat menuju ke zaman modernisme. Yang berkembang saat itu adalah industri dan ilmu pengetahuannya. Renaissance yang sangat dielu-elukan  merupakan transisi dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang. Sering tidak diceritakan dengan jelas bagaimana transisi tersebut terjadi. Padahal sebenarnya masa transisi tersebut adalah zaman penerjemah (translation ages). Artinya masa menerjemahkan karya muslim ke bahasa latin agar dapat mengambil ilmu Islam yang telah berkembang pesat saat itu.

Peran kita umat Islam luar biasa dalam memajukan peradaban Barat sehingga boleh dibilang bahwa munculnya peradaban Barat karena peradaban Islam. Salah satu faktor penting peradaban Barat adalah penerjemahan karya cendekiawan muslim yang diterjemahkan dalam bahasa latin.

Pada abad pencerahan ada 2 revolusi yang terjadi yakni revolusi industri dan revolusi Prancis. Sehingga semua berubah menjadi scientific view. Suatu pemikiran bahwa jika seseorang tidak ilmiah, maka dia tidak maju. Trendnya adalah “belajar” dan “ilmu pengetahuan”. Segala sesuatu dilihat dari keilmuan. Zaman modernisme ini melahirkan banyak paham seperti :

1. Sekularisme

2. Rasionalisme

3. Empirisisme. Atau sering disebut positivisme, dimana segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu berdasarkan sebab dan sebab itu akan terus berkembang dan dicari. Jadi tidak ada konsep takdir. Paham ini menafikan keberadaan metafisis dimana semua bisa dijangkau dengan akal. Melihat ciptaan bukan untuk memperhatikan kebesaran Allah, tapi untuk mencari sebabnya. (Kita, sebagai umat Islam, boleh menganggap ‘sebab akibat’ berperan dalam hidup kita tapi kita juga harus melihat peran Allah disana. )

4. Dikotomis , paham yang memisahkan antar agama dengan kehidupan dunia.

5. Disakralisasi, bahwa tidak ada sesuatu yang sakral di dunia ini, termasuk wahyu juga bukan hal yang sakral

6. Pragmatisme.

Akhirnya sekularisme membuat para agamis hanya membicarakan agama di tempat ibadah saja. Mereka tidak boleh membawa agama dalam scientific. Dalam modernisme, sains adalah sesuatu yang sentral dan paling populer sampai menggeser posisi Tuhan dan agama dikesampingkan. Ilmu pengetahuan harus diproteksi dari agama (kristen) karena agama memiliki doktrin (dogmatis) yang tidak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Hal ini berbeda dengan Islam karena pengetahuan selalu mendukung apa yang ada di dalam Islam. Contoh yang mungkin bertentangan dengan Islam adalah hukum kekekalan energi yang memang tidak bisa dibuktikan secara empiris. “Energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan”. Tidak ada yang bisa membuktikan apakah ada energi yang keluar ketika misalnya adanya konversi energi listrik ke energi gerak.

Ada seorang doktor bernama William Campbell, yang pernah menyatakan bahwa teori embriologi dalam Islam yakni embrio yang berbentuk seperti lintah bertentangan dengan foto yang diambilnya. Hal ini kemudian dijawab langsung oleh Dr. Zulkarnain dari India dan berhasil dipatahkan karena ternyata foto-foto yang diambil Campbell hanya diambil dari sisi depan embrio. Campbell juga pernah menentang teori gunung sebagai pasak yang mencegah goncangan. Dia berkata bahwa gunung justru membuat gempa. Tapi, lagi-lagi dipatahkan bahwa seandainya bumi itu tanpa gunung, maka bumi itu pasti bergeser terus, karena gunung memiliki kedalaman 4 kali dari ketinggiannya seperti paku yang ditancapkan. Dan pernyataan lain seperti siklus air dalam Alquran yang tidak lengkap oleh Campbell yang disanggah bahwa ternyata dalam Alquran dijelaskan sangat rinci tentang siklus air.

Semua harus berdasarkan rasio dalam modernisme. Cara berpikirnya adalah menjadikan seluruh aspek kehidupan berdasarkan rasio. Akhirnya agama pun dirasio-rasiokan sehingga yang tidak sesuai akal ditolak. Bahkan Tuhan pun jika tidak sesuai rasio maka pasti ditolak. Semakin orang Barat jauh dari Kristen , maka dia semakin maju. Hal ini menyebabkan iptek mereka seringkali membuat kehancuran di muka bumi. Berbeda dengan umat Islam yang ketika semakin maju dengan ilmu maka akan semakin maju dengan agama. Kemajuan yang membawa peradaban menjadi sangat dekat dengan nilai- nilai moral.

Postmodernisme

Kalau postmodernisme? Kata mereka orang barat, post modernisme adalah bentuk protes terhadap modernisme. Tapi juga bisa dikatakan sebagai kelanjutan modernisme, karena masih menggunakan rasionalisme. Munculnya bagaimana? Di abad 19. Konsep utamanya adalah bahwa realitas itu selalu dapat dipahami manusia. Setiap orang kalau memaknai fenomena maka belum tentu yang dipahami seseorang itu adalah benar. Pemikiran yang sangat relatif sehingga dia harus mengingkari absolutisme. Jadi tidak ada pandangan paling benar. Memaknai sesuatu tidak menganggap makna yang diambil itu adalah yang paling benar. Postmodernisme menolak arogansi dari setiap teori, sebab setiap teori punya tolak pikir masing-masing.

Contohnya adalah lesbian dalam Islam yang saklek dilarang, dan mereka menganggap bisa jadi lesbian dibolehkan karena pada masa nabi Luth ada penindasan saat lesbian dan homo terjadi. Intinya tidak boleh ada kebenaran yang absolut. Sehingga akhirnya dia menyerang hal yang terkait dengan keagamaan. Dia menutup jalan metafisika (meyakini hal-hal ghaib). Mendukung sistem yang bebas dalam pemikiran metafisis (agama). Tokoh yang mulai menjauhkan dari doktrin agama adalah Karl Max dan Nietzsche*.

Menurut pemikir JIL, pengadopsi postmodernisme, AlQuran itu tafsirnya tidak boleh ‘final’. Hukum dalam Islam yang final jadi tidak final seperti kewajiban shalat atau larangan minum khamr karena tiap orang boleh mengambil tafsir seenak hatinya dan menerapkan hukum sesuai yang ia tafsiri. Pada akhirnya pluralisme agama yang diusung mereka.

Tiga kunci post modernisme yakni:
Refuse finality
Inilah yang menyebabkan adanya tafsir hermeneutika, yakni suatu ilmu yang menafsirkan Bible serta menempatkannya sebagai bagian dari dinamika sejarah, dikarenakan sifat teks Bible yang merupakan “teks manusiawi”. Sebagaimana disampaikan oleh Paus Benediktus XVI, kata-kata dalam Bible, bukan hanya kata-kata Tuhan, tetapi juga kata-kata Isaiah, kata-kata Markus. Ia pun menyampaikan bahwa Tuhan menggunakan manusia dan memberikan inspirasi kepada kepada mereka untuk mengungkapkan kata-kata-Nya kepada manusia (He used His human creatures, and inspired them to speak His word to the world). (Lihat: Adian Husaini, Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran, Jakarta: Gema Insani, 2007, h.10). Islam memang bukanlah bagian dari dinamika sejarah. Islam sudah sempurna sejak awal (al-Maidah:3). Oleh karena itu, metode historis kritis dan analisis penulis teks (yang merupakan metode hermeneutika) tidak dapat diterapkan untuk teks wahyu seperti Al-Quran, yang memang merupakan kitab tanzil (diturunkan), yang otentik dan final.

Dengan hermeneutika, maka hukum-hukum Islam yang selama ini sudah disepakati kaum muslimin bisa berubah. Dengan hermeneutika pula, bisa keluar produk hukum yang menyatakan wanita boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, khamr menjadi halal, laki-laki punya masa iddah seperti wanita, atau wanita punya hak talak sebagaimana laki-laki, atau perkawinan homopseksual/lesbian menjadi halal. Semua perubahan itu bisa dilakukan dengan mengatasnamakan “tafsir kontekstual” yang dianggap sejalan dengan perkembangan zaman (InPAS Online).

Dissolution of value (penghapusan nilai)
Tidak boleh ada nilai2 yang dijunjung tinggi oleh agama. Manusia tidak boleh mengakui nilai-nilai apapun. Jika nilai-nilai ini dihapuskan maka Tuhan pun harus dibunuh karena nilai itu memang berasal dari Tuhan. Karena ketika tidak ada Tuhan, maka nilai pun tidak lagi mempunyai makna. Sesuatu yang otoriter akan membuat ketetapan yang absolut dan itu tidak diperbolehkan.

Subjectivity of truth
Menjunjung tingggi subjektivitas dalam agama. Wahyu seperti Al-Qur’an dianggap teks sehingga dia layak dimaknai oleh siapapun. Pemahaman postmodernisme yang diadopsi JIL tentang wahyu adalah wahyu ketika diucapkan Nabi Muhammad menjadi bergeser nilainya karena dicampur dengan latar belakang Nabi Muhammad. “Buku Menggugat Keotentikan Wahyu Tuhan” lahir karena postmodernisme.

Bedanya modernisme dan postmodernisme?

Kalo di dalam postmodernisme, tidak ada kebenaran objektif sedangkan kebenaran objektif sangat diakui dalam modernisme. Kesamaannya, dua paham ini mengandalkan rasionalitas.

Yaak, sekian. Semoga bisa membuka mata kita tentang pemikiran Barat dan menyikapinya lebih baik lagi. Selamat beraktivitas, kawan😀

*)ditulis dengan banyak revisi, dan baru sadar kalau tulisannya acak2an.

10 pemikiran pada “Kajian Modernisme dan Postmodernisme

  1. Koreksi dikit..🙂
    Tulisan yg benar Nietzsche atau lengkapnya Friedrich Wilhelm Nietzsche.. org2 menyebutnya bapak postmodernisme.. “Tuhan sudah mati, dan kitalah yang membunuhnya.” kata Nietzsche

  2. Wah, jazakallah koreksinya. Maklum, kajiannya pake hijab, jadi slidenya ga kliatan dan akhirnya saya cuma mengandalkan telinga untuk menuliskan apa yang disampaikan yang punya ilmu.

  3. Ping balik: Post-modernisme sebagai way of life? « Daily Emotion Journal

  4. syukron ya….
    hahaha dasar JIL jaringan iblis liberal, suka ada2 aja ya…
    al-qur’an ma injil beda banget,,, injil ma koran gak ada bedanya…

  5. Sedikit koreksi,
    1. metafisika tidak hanya membicarakan hal-hal yang ghaib. Hal itu bisa dipahami apabila mencermati buku pengantar filsafat karangan Louis O. Kattsoff.
    O ya, apabila Anda membaca buku tersebut, cobalah menguji benar salahnya tiap yang dikatakan. Apabila Anda hanya menerima, Anda bisa jadi bingung bahkan ateis. Karena itu tidak heran beberapa orang mengharamkan filsafat. Bukan karena filsafat itu hal yang mudharat, namun tidak hati-hatinya seseorang mempelajari filsafat.
    Banyak filsuf Islam dalam abad keemasan Islam seperti Al-Ghazali dan Al Kindi. Mereka berfilsafat atau belajar filsafat dan justru itu memperkokoh iman mereka. Dengan kata lain, mempelajari filsafat, perlu kehati-hatian (senantiasa mempertanyakan dan menguji benar salahnya apa yang dikatakan) dan itu tidak ada salahnya.
    2. hermeneutika tidak mengajarkan tafsir sesuka hati. Apabila JIL seperti itu, justru dipertanyakan apakah benar JIL menggunakan hemeneutika. Atau, hermeneutikanya salah.
    Syukron atas artikelnya… ini membantu dalam memahami apa itu postmodernisme, update terus ya..

    • Saya sebenarnya memang masih awam. Artikel di atas adalah resume dari kajian yang saya ikuti beberapa bulan lalu. Terima kasih atas koreksi dan dorongannya🙂

  6. Apakah kalau seorang menganggap menganut lebih dari satu agama karena dia ingin mencintai Tuhan juga dapat dikaji di Posmodernisme?

    • Inti teori postmodernisme adalah tidak mengakui kebenaran mutlak. Semua orang bebas menginterpretasikan suatu hal sesuai dengan akalnya. Sama halnya dengan orang yang menganut lebih dari satu agama, artinya dia tidak mengakui kebenaran mutlak dalam satu agama (karena kebanyakan agama pasti secara mutlak membenarkan agamanya sendiri). Jadi ketika seseorang tidak memegang kebenaran yang mutlak (yang berasal dari Tuhannya, dari agama yang dia anut), maka hal tersebut juga masuk ke teori postmodernisme.

      Wallahu a’lam bisshawab…

      • belajar beginian dimana siy?? haha

        • Belajarnya dari kajian dengan sumber yang terpercaya, mbak. Kebetulan pembicaranya pimpinan redaksi UndergroundTauhid.com dan memang beliau sudah malang melintang di dunia media dan pemikiran Islam. Nama beliau Aditya Abdurrahman, dosen UPN.
          Kalau mau belajar, bisa beli buku-buku tentang teori modernisme dan postmodernisme, tapi jangan lupa untuk membeli lebih dari satu buku dengan sudut pandang yang berbeda, supaya wawasan kita lebih luas dan berimbang, tapi itu kalau suka baca..
          Saya cuma penikmat kajian sebenarnya, bukan orang sosiologi apalagi ahli filsafat. Teori pemikiran tersebut bagi saya memang perlu kita pahami benar-benar agar suatu saat nanti, kita bisa menjawab dengan gamblang ketika ada yang bertanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s