Maka, istimrorlah dalam melakukan perbaikan #sebuah catatan perjalanan

Image

Menulis lagi, di tengah kalutnya hati mengerjakan tugas akhir. Ya, mencatat realita pilu di masyarakat sekitar kita.

Bada isya, saya dan ukh Ova hendak mengunjungi koordinator ibu binaan di Kejawan Gebang, bu Rista karena ayah beliau baru saja meninggal karena stroke. Kami berbicara ngalor ngidul, sampai akhirnya membahas karakteristik warga disana.

“Iya, mbak. Kalo jamannya mas Dayat, pengajian ibu-ibu disini perjuangan sekali. Dulu sampai pernah dikira pengajian sesat dan mau ditutup.” ujar bu Rista sambil menerawang masa lalu. Saya yang sebelumnya pernah mendengar cerita itu dari mas Dayat di forsil BPU JMMI terakhir di seminggu lalu, hanya membenarkan dalam hati. “Mas Dayat, sama mas Opik dulu sampai minta ijin ke orang yang punya pengaruh disini. Tapi ya susah mbak. Orang sini kan pada masih awam. Kalaupun mau, biasanya karena ada sembako dulu. ” lanjutnya tersenyum pada kami. Ooo…gumam saya dalam hati.

——————————————————————

Kejawan Gebang, adalah salah satu daerah binaan Badan Pelayanan Umat JMMI ITS. Daerahnya berada di dekat ITS, dimana sebagian besar warganya bekerja sebagai buruh tambak dan pemulung. Satu episode sempat terekam di memori saya, ketika kami hendak mengadakan pengajian di mushola fi sabilillah karena keinginan mendapatkan tempat yang lebih besar daripada mushola yang sering kami gunakan sebelumnya yang kerap disebut “Mushola Pak Seno” dan hanya berukuran 5×5 meter. Kami berputar-putar meminta ijin dari rumah ke rumah untuk dapat menggunakan musola yang cukup besar tersebut. Mulai dari wakil takmir masjid, takmirnya sampai ketua RW yang saling melempar keputusan. Dan pada akhirnya, ketika kami menghadap salah satu dari mereka, yang saya ingat adalah tanggapan tanpa basa-basi,

“Ini pengajiannya ada bawaannya ngga, Mbak?”

“Ha? Bawaan apa Bapak?” tanyaku polos.

“Itu mbak. Buah tangan. Semacam sembako gitu. ”

Saya menelan ludah. Saling berpandangan dengan bu Rista yang waktu itu dengan rela hati mengorbankan waktu istirahat malamnya untuk mengantarkan kami ke rumah-rumah Bapak-bapak petinggi kampung. Seakan memahami sesuatu…

“Wah, sayang sekali Bapak. Tidak ada. Ini pengajiannya tentang parenting. Tapi penting untuk mendidik anak lebih baik.”

Meskipun digombali tentang sisi menariknya kajian, si Bapak cuma diam. Lalu…

“Maaf, Mbak. Untuk masalah peminjaman, kita tidak bisa memberikan ijin. Mushola Fi Sabilillah hanya digunakan untuk kegiatan yang diadakan dari kampung sini. Dulu aja, ibu-ibu pengajian dari CTS pernah mau ngadain disana, tapi nggak kita bolehin.”

Akhirnya kami pulang dengan harapan yang pupus.

——————————————————————
Bu Rista pun bercerita tentang sulitnya mengajak ibu-ibu untuk mengikuti kajian. Yang diajak banyak dari rumah ke rumah, namun yang datang hanya segelintir, sekitar 5-9 orang. Ya, jujur saya sangat terbantu dengan bu Rista, karena beliaulah penggerak ibu-ibu di Kejawan. Beliaulah yang mengompori ibu-ibu untuk ikut kajian ceramah, juga untuk ikut mengaji iqro’. Beliaulah yang menghubungkan kami dengan ibu-ibu disana.

Dan ketika itu, entah kenapa tiba-tiba kami jadi membahas sesuatu yang benar-benar ‘out of the box’ dengan bu Rista. Bagi mahasiswa yang biasanya idealis, dan terbiasa dengan kehidupannya yang serba sudah terkondisikan, maka berhentilah mengeluh tentang tugas-tugas anda atau amanah anda seolah-olah andalah yang paling menderita dan menyedihkan di dunia ini. Tengoklah kenyataan-kenyataan memilukan di luar sana. Kenyataan yang mungkin tak terlalu dipublish di media sekarang, mungkin sudah di masa lampau, yang menjadikan fenomena itu telah dianggap biasa. Yah, tentang pergaulan bebas yang terjadi di anak-anak kalangan ekonomi ke bawah. Pacaran melebihi batas. Seks di luar nikah. Pernikahan dini. Dan lain sebagainya😦

Saya ingat bahwa saya bolak-balik diwanti-wanti ukh Immash untuk menyikapi pergaulan anak remaja disana melalui mentoring. Saya masih polos waktu itu. Belum terlalu menanggapi dengan serius, karena kesibukan lain yang menimpa(Huh, lagi-lagi alasan basimu Nuris!). Kata bu Rista, bahwa kebanyakan anak-anak sekitar sini, paska SD atau SMP, biasanya putus sekolah dan masuk ke pergaulan yang salah. Ada yang minum-minum. Keluar malam dengan pakaian minim dengan lawan jenis. Banyak pula yang putus sekolah karena sudah hamil duluan saat SMA. Atau saat SMAnya, ada yang dikencani dengan om-om karena dijebak kakak kelas(Astaghfirullah). Karena itu, bu Rista sangat menjaga anak perempuannya dari lingkungan seperti itu dengan menyekolahkannya di sekolah Islam, bukan di sekolah negeri atau sekolah swasta di sekitar daerahnya yang tidak mengutamakan nilai Islami dalam pendidikannya.

Mendengar kata pergaulan, teringatlah saya pada curhatan ADK Jombang di acara workshop jurnalistik pada saya di sesi Mabit. Dia mengatakan bahwa hampir tujuh puluh persen teman perempuannya di satu universitas tidak lagi perawan. Yang ikut LDK nya pun kebanyakan masih pacaran padahal jumlahnya hanya segelintir. Bahan pembicaraannya pun seputar masalah pacar, kosmetik, dan semacam itu. Dia juga bercerita tentang susahnya mengajak mereka mengikuti kajian. Saya yang mendengarkan hanya heran setengah mati, karena kenapa adik akhwat itu bisa tahan berada di tengah-tengah komunitas tidak sehat semacam itu. Itulah realitasnya. Membuat saya malu, karena saya selalu berada di zona nyaman yang saya sukai. Begitu banyak pe er kita! Entah di masyarakat bawah yang belum paham tentang pendidikan, sampai teman-teman berpendidikan tinggi seusia kita.

Betapa pentingnya kita memulai dari bawah, dari orang sekitar kita. Memulai perbaikan secara terus menerus. Malulah anda ketika anda hanya melulu memperbaiki diri anda sendiri, keluarga anda, atau kerabat dekat anda, sementara di tempat lain banyak masyarakat yang membutuhkan sentuhan dakwah anda. membutuhkan hidayah dari Allah melalui tangan anda. Unta merah adalah tidak lebih baik kita dapatkan, begitulah bunyi hadis, ketika ada orang yang mendapatkan petunjuk Allah dari perantaraan kita.

Ah, teori lagi. Sudah sudah. Saatnya beraksi. Tancaaap, bos!!!🙂

Sumber gambar : aku-penggapai-ridhomu.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s