Memoar pahitku di bulan Maret

Image

Menyelami hening. Mengais-ngais ingatan tentang gelut pemikiran islam di grup komunitas muslim. Yang satu menyalahkan yang lain, yang lain tak segan mendebat, tak sungkan menghina yang empunya pendapat, sampai tak ada yang mau mengalah. Debat yang ada tak pernah menyelesaikan masalah, tak juga menambah ilmu, parahnya malah memperkeruh keadaan. Masing-masing saling berseteru. Mengeluarkan hadist dan ayat untuk membenarkan pendapat. Bahkan ketika saya mencoba melerai, menghentikan debat, menjaring pendapat untuk membuat SOP yang menolak postingan yang mengundang perdebatan, maka satu julukan pada suatu komentar akhirnya mampir pada saya. Islamophobia.

Saya langsung tergugu. Istilah jeleknya nangis. Jengkel, mangkel. Maka saya pun membalas dengan sarat emosi. Namun beberapa jam kemudian saya sadar. Saya salah. Saya terpancing. Maka saya hapus semua komentar saya. Saya tak terbiasa dengan konflik. Saya cenderung menghindar. Hobi saya adalah mencari kedamaian, bukan keributan. Pantaslah sifat kedua saya yang mendominasi saya adalah plegmatis.

Salah satu teman saya bahkan sampai sempat keluar dari grup. Dia juga sempat adu pendapat disana. Dia bilang bahwa saya harus sabar dijuluki orang seperti itu. Dia sendiri pernah disebut orang liberal. Yah, pikir saya, wajar saja saya disebut seperti itu. Karena saya dianggap menutupi kebenaran dengan menolak perdebatan yang ada.

Back to the topic. Islamophobia? Makanan apa itu?

Islamophobia adalah ketakutan berlebihan yang tidak memiliki dasar berpikir yang kuat tentang Islam bahkan dapat disebut dengan mengada-ada. Tidak ada pembenaran yang logis di dalamnya, yang ada hanyalah prasangka-prasangka yang terlahir akibat persepsi-persepsi buruk yang terus menerus ditanamkan kepada diri seseorang bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan, kebencian, egois, tidak toleran dan membatasi pemeluknya dengan aturan-aturan yang ketat sehingga tidak adanya kebebasan di dalamnya yang berujung persepsi bahwa Islam adalah kuno, ekstrem, agama yang membawa kehancuran, dan sebagainya.

Opini umum bahwa Islam adalah agama perusak dan penuh dengan kekerasan ini digelontorkan oleh Barat sedemikian rupa agar masyarakat dunia tidak mengenal Islam apalagi memeluknya. Kebencian mereka akan Islam telah dibuktikan dengan usaha dan kerja keras sehingga membentuk sebuah tata dunia baru yang menjadikan Islam sebagai agama yang harus dijauhi, ditinggalkan, bahkan kalau perlu dilarang baik pengenaan atribut, pelaksanaan ibadahnya, dan yang paling penting adalah jangan sampai hukum Islam yang adil dan bijaksana mewarnai suatu negeri.

Kepada saudara saya seiman, meski berbeda pergerakan, sungguh jauh di lubuk hati saya, saya tidak pernah sekalipun menolak Islam dalam syariat. Saya muslimah dan saya selalu berusaha menerapkan Islam secara penuh. Perkara tentang wacana islam sebagai syariat yang wajib di negeri ini, maka pun saya tak pernah membantah. Saya pun merindukan kejayaan Islam saat jaman kekhalifahan dulu. Lantas, apakah cara kalian, seperti menawarkan perbantahan, menghina saudara sendiri(jelas sekali!), memakai ayat dan hadits sebagai pembenaran seolah merasa menjadi yang paling benar, lalu menafikan pendapat lain yang jelas-jelas memiliki dalil dan ijtihad sendiri, adalah cara yang baik bagi kalian untuk mendakwahkan Islam? Yakinkah bahwa semua orang bisa menerima dengan sukacita dan tangan terbuka akan substansi yang kalian sampaikan?

Rasulullah sendiri marah ketika ada yang berselisih dalam Islam yang menyebabkan renggangnya ukhuwah. Bahkan lebih jauh lagi akibatnya, yakni ketika yang akan diajak menuju kebenaran malah akan lari dan lebih islamophobia terhadap Islam.

Diriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni ‘Abdullah bin ‘Amru r.a.), bahwa suatu hari Rasulullah saw. mendengar sejumlah orang sedang bertengkar, lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya, ummat sebelum kalian binasa disebabkan mereka mempertentangkan satu ayat dalam Kitabullah dengan ayat lain. Sesungguhnya Allah menurunkan ayat-ayat dalam Kitabullah itu saling membenarkan satu sama lain. Jika kalian mengetahui maksudnya, maka katakanlah! Jika tidak, maka serahkanlah kepada yang mengetehuinya.” (Hasan, HR Ibnu Majah [85], Ahmad [II/185, 195-196], dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [121]).

Perbanyak ilmu. Belajar. Aplikasikan nyata! Yang ditunggu aksi kita sebagai agen muslim. Jangan sampai kita jadi aktivis NATO (No Action Talk Only) yang ramai dan sibuk di perbincangan tak bermanfaat di dunia maya. CMIIW.

#Salam si plegmatis yang menolak dituduh islamophobia

Satu pemikiran pada “Memoar pahitku di bulan Maret

  1. nice share sist.. salam kenal..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s