Menemukan semangat (lagi) dengan binaan

Image

Lagi-lagi malam yang memberi cerita untuk saya. Allah SWT tepatnya, sebagai sutradara dalam hidup saya malam itu. Setelah seharian membantu di salah satu agenda dakwah di JMMI, disambung siangnya materi pembinaan dengan murobbi, tiba saatnya mengajari mengaji iqra untuk ibu binaan di Kejawan. Mulanya saya amnesia (kebiasaan), namun saya disms adik JMMI, sehingga saya harus menunggu alias menahan diri untuk tidak pulang ke rumah karena acara mengaji tersebut dimulai bada isya. Bisa jadi kalo tidak ada agenda, saya pulang bada asar😀

Dimulai dengan basmalah, shalawat dan surat alfatihah, pengajaran pun dimulai dengan saya dan seorang akhwat dari biro pembinaan JMMI sebagai pengajarnya di musola kecil berukuran kira-kira 3×3 meter. Mula-mula ada dua orang ibu yang saya ajari, lama-lama bertambah satu hingga ada empat yang berkumpul di halaqah saya (baca: lingkaran). Begitu pula dengan halaqah teman saya. Malam pun sangat menggigit, maksud saya “nyamuk”nya sehingga bolak-balik harus menggaruk kaki saya yang gatal tergigit, padahal saya sudah pakai kaus kaki (pekan depan harus bawa autan :D)

Di halaqah saya, ada ibu yang sudah tua, mungkin umurnya sudah hinggap di kepala 50-an, dan masih baru memulai di halaman pertama iqro. Rupanya di pertemuan minggu sebelumnya, beliau diajari hanya membaca bersama-sama, tanpa memahami bacaan per huruf. Maka saya berusaha mengenalkan serta membedakan huruf a dan ba saja karena beliau kesulitan mengenali bacaan per huruf yang hampir sama seperti ba, ta dan tsa.

Berikutnya, ada koordinator binaan yang sehari-harinya membantu suaminya bekerja, dengan kuku tangan yang menghitam. Saya lupa pekerjaannya apa. Sebenarnya beliau pernah bisa membaca Al-Qur’an, namun kembali diulang ke iqro dua karena seiring usia dan kesibukan bekerja, beliau agaknya lupa dengan hukum bacaannya.

Ada pula ibu yang berasal dari Madura, yang suka tertawa lepas ketika salah dalam mengeja huruf. Ibu ini suka mengeja huruf a dengan e. Misal ja jadi je, wa jadi we (e nya mirip saat kita mengeja e dalam kata ‘jembatan’). Katanya, hal itu karena kebiasaannya berbicara dalam bahasa madura. Saya paling suka dengan ibu ini karena beliau yang paling semangat datang, dan salah satu kebiasaannya yang membuat saya semangat – beliau suka tersenyum. Beliau saat ini sudah di iqra satu.

Yang terakhir, adalah ibu binaan yang masih sangat muda. Saya mengira-ngira umurnya masih 20-an. Mulanya saat beliau datang, saya kira dia ustadzah atau ikhwah yang kebetulan lewat. Gaya bicaranya mirip dengan gaya anak muda dan terkesan cerdas, sehingga saya tidak mengira beliau termasuk ibu binaan yang ikut mengaji. Ibu ini sudah bagus bacaannya, beliau sudah di tingkat iqra tiga. Paling tinggi diantara yang lain.

“Mbak, sampai ketagihan nih ngajarin ibunya. Ana sampai ga pengen ngajinya cepat selesai. “ujar teman saya. Saya timpali dengan mengangguk. Rekor ibu binaan di BBQ sejauh ini : 8 orang. Dulu sempat juga yang datang 9 orang di lokasi yang berbeda, tapi saat ini tidak sebanyak yang kemarin karena terkendala lokasi yang jauh.

Yah, demikian curhatan saya. Membosankan sih, hehe, tapi saya senang menuliskannya agar suatu hari saat saya membaca tulisan ini kembali, saya bisa menemukan semangat saya lagi, mengingat polah tingkah serta semangat ibu binaan.  Beda deh, sensasi saat kita bersama adik binaan dan saat bersama ibu binaan. Saya bisa melepas tawa, melempar canda, berbagi ceria bersama mereka. Dan sayalah yang seringkali mendapat semangat dari mereka, saat saya sedih dan futur. Masak iya saya kalah semangat dengan ibunya yang mungkin lebih sulit tantangan hidupnya dibanding saya.

Ya, saya maluuu sekali sebagai muslim yang jarang bersyukur. Muslim itu harus mampu berpikir bijak sambil meluaskan hati. Sama halnya ketika kita merutuk dengan keadaan kamar yang sempit, kecil dan gerah. Sekali-kali tengoklah jendela kamar. Lihatlah langit yang luas, pemandangan yang indah, serta sentuhan ciptaan Allah lainnya di luar jendela, yang tiap detilnya tak pernah tanpa kebermanfaatan. Hal ini dapat mendorong kita bersyukur dengan keadaan kita sehingga menyemangati kita untuk dapat mengatasi semua gejolak dan persoalan kehidupan ini dan mengubahnya menjadi sebuah anugerah.

Khoirunnaas, anfa’uhum linnas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s