Mengenalkan Allah pada anak

Menuliskan ulang dari sedikit apa yang dibaca dari buku Positive Parenting karya M. Fauzil Adhim. Jazakillah to Ririn, Fitri dan Dek Yuyun yang membawa sejuta inspirasi di hari istimewa saya ^^. Meski mulanya terkejut dan merasa tidak siap membaca, toh memang kita harus membekali diri sejak dini dengan ilmu parenting karena wanita adalah madrasah pertama bagi anaknya.

Bab yang dibaca, judulnya mengenalkan Allah pada anak. Berikut cuplikannya.

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika sedang melakukan kesalahan atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat keliru, asma Allah akan terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita. “Hayo.. Nggak boleh! Dosa! Allah ga suka sama orang yang sering berbuat dosa.”Atau saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, “Eee.. nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak, namanya muba..? Muba..? Mubazir! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho” (loh, kog mirip kejadian saya pas kecil ya -_-)

Jika setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif, manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama, termasuk kepada anak kita, dengan cara “mudahkanlah dan jangan dipersulit dan jangan membuat mereka lari.” Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan.

Iqra’ Bismirabbikal-ladzii Khalaq

Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan olehNya kepada kita adalah Al-Khaliq dan Al-Karim, sebagaimana firmanNya,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”(QS Al-Alaq[96]: 1-5)

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka sudah mulai bisa kita ajak bicara. Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifatNya yang pertama kali dikenalkan, yakni Al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak kita bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita, disitulah kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan kepada mereka , bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah sehingga tergerak untuk tunduk kepadaNya. Ini pula yang mengawal mereka dalam mengawasi perbuatannya, dan menjaga tindakannya. Inilah sebaik-baik pengawasan, sebab tidak mempersyaratkan hadirnya kita setiap saat.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Perlahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan misalnya, kepada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya ada dua ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus ya. Matanya buat apa, Nak?” Secara bertahap, kita ajarkan pada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan orang tua dan guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling utama adalah menumbuhkan kesadaran – bukan hanya pengetahuan – bahwa ia ciptaan Allah, karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali dikenalkan Allah kepada kita yakni Al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagunagn yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.[PP hal 208-217]

Woah, rumit juga ya. Ya, begitulah. Ketika kita berniat mendidik anak menuju peradaban yang lebih baik, maka diperlukan cara-cara strategis agar anak kita menjadi soleh/solehah kelak, juga sekaligus sebagai bekal amal yang tidak putus saat kita sudah tidak di dunia. Karena orang besar tidak dilahirkan. Namun dididik, diukir dan dipersiapkan sejak dini dengan pendidikan yang baik.

Surga-surga ‘Adn. Mereka masuk kedalamnya bersama mereka yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (QS Al-Ra’d[13]: 23)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s