Karena terkadang belajar itu perlu dipaksakan

#kisahku saat butek-buteknya dengan FP

Ada 2 keahlian baru yang kudapatkan selama setahun kuliah ini, dan ini tak pernah kubayangkan sebelumnya. Pertama, adobe photoshop. Aku yang ‘katrok IT’ paling anti menyentuh ranah design. Cukup coreldraw atau paint saja sebagai tools untukku menggambar atau mendesain. Eh, ndilalah..

“Ris, ikut bantu lomba game yuk!” ajak temanku. Aku mengangguk senang. Lama tak ada kabar…

“Bagian desain ya” dia mengatakannya di pertengahan, setelah dia mendaftarkan namaku sebagai anggotanya di website lomba. Oh, No! “Pake corel piye?” tanyaku.

“Heh, jangan. Butuh ngedit-ngedit gambar. Jelek. Pake photoshop ae. Takpinjemin bukunya kalo mau belajar”

Ragu. Tapi sudah menjadi tuntutan. Walhasil sistemnya lebih mirip kebut tujuh hari saat menggarap desain game Sim No Calo.  Meskipun ndak lolos di babak penyisihan, setidaknya aku mendapat pengalaman memakai photoshop. Yey!

Kedua, flash. Mata kuliah Simulasi Game dan Komputer memaksa kelompok kami membuat game sebagai FP. Mulanya mencoba belajar menggunakan eclipse (mirip netbeans, tapi lebih ringan) yang berintegrasi dengan android programming karena kata dosen, game akan bernilai plus ketika bisa dipakai di smartphone berbasis Android, apalagi bila bisa dimasukkan ke Android Market. Tapi H-10 demo game, aku yang ‘dipaksa’ ditunjuk sebagai programmernya, belum menghasilkan progress apapun karena sulitnya mendapat referensi pembuatan game android yang mudah diimplementasikan di eclipse. Kalaupun ada, biasanya memakai platform dan contohnya sangat sedikit sehingga sulit untuk mengembangkannya.

Kemudian teman sekelompokku mendapat pencerahan, “Pake flash ae.. kata anak2, lebih gampang. Nanti belajar bareng-bareng.”

Alamak. Belajar dari nol laan. Akhirnya daripada pusing pake eclipse (padahal bahasa yang dipakai lebih familiar di mataku, i love java programming!), dengan berat hati kupelajari bahasa action script 3.0, bahasa yang dipakai buat ngoding Flash. Flash ini juga bisa mengeksport dari .swf ke game android yang berekstensi .apk sehingga tetap masuk kualifikasi nilai A dari dosen. FP inilah yang paling menguras waktu dan tenagaku di semester tujuh. H-3 demo, kuanggap game yang kubuat sudah selesai, sehingga kuserahkan sepenuhnya pada temanku. Banyak bug sebenarnya, tapi menurutku bukan masalah, selama sistemnya utamanya berjalan baik. Selain karena aku  sudah sampai di titik bosan dalam mengobati bug yang ada.

O la la, di hari kelompokku demo, banyak pertanyaan yang diajukan dosenku di depan kelas, yang menyayangkan game kelompok kami yang sangat sederhana. Kurang tantanganlah, pun cenderung memakan waktu yang lama untuk memainkannya. Tapi di akhir crita, yang paling mengejutkan, adalah pernyataan dosenku di sesi pengumuman, bahwa game kami tersebut termasuk 4 game yang potensial untuk dikembangkan dari 7 game yang dipresentasikan. Wuiiih, kok bisa?? Alhamdulillah,  ya Rabb..

Terima kasih tak lupa kusampaikan pada Fitri, master animasi Flash, juga atas semangat dan logistiknya. Pada Ditsa yang sudah membuatkan desain game super kilat. Juga pada Ririn yang dengan cerdas bisa memanipulasi data distribusinya pake regresi dan PCA.

Intinya terkadang belajar perlu dipaksa. Tapi lebih baik ya belajar dengan terlebih dulu menyukainya. Sisi lainnya, skenario Allah yang indah akan menantimu jika kamu mau berusaha semaksimal mungkin. Gagal pun, artinya kamu berhasil menemukan cara yang gagal, sehingga membuatmu belajar agar tidak jatuh pada lubang kegagalan sebelumnya, yang akhirnya akan membantumu semakin dekat dengan kesuksesan yang kamu impikan.

Semangat!

*jadi teringat materinya pak Sahab, tentang seni mengelola keterpaksaan.

2 pemikiran pada “Karena terkadang belajar itu perlu dipaksakan

  1. heee.. Ane jadi master flash? darimana juga?? -__-”
    ati2, setelah ini flash buatanmu bakal nyebar.😀

    • master animasi, nek. kan nenek yang bikin animasi siang malam, avatar, ma intro. nah lo, tanpa itu semua mungkin ya game kita ga jadi. lah, ane ora iso animasi flash blas ee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s