Berkatalah yang baik atau diam

Yuk, merenung!

Kadang kala tanpa kita sadari, kita bisa menjadi pelaku ghibah. Ayat yang paling populer tentang larangan ghibah adalah Al-Hujuraat 12, yakni keburukannya bagaikan memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Ghibah, menurut Imam Yahya inb Syaraf An Nawawi di bukunya Al Aldzkaar, ialah menyebut perihal seseorang dengan sesuatu dan cara yang tidak disukainya, baik menyebutnya dengan lisan, tulisan, sindiran, atau dengan isyarat mata, tangan dan kepala.

Batasan pengertian ghibah yang diharamkan ialah semua pengertian yang dilontarkan orang lain untuk mengungkapkan kekurangan seorang muslim, antara lain dengan meniru-niru. Umpamanya berjalan dengan langkah yang dipincangkan atau menganggukkan kepala atau gerakan lainnya.

Siapapun kata Imam An-Nawawi bisa melakukan ghibah. Sampai pada kalangan ahli fiqh atau ahli ibadah, bisa jadi tanpa sadar melakukan ghibah dengan kata sindiran yang makna dan pengertiannya sama dengan kata yang jelas dan terang. Misalnya, “Bagaimana pendapat anda tentang si Fulan?” Dia menjawab, “Semoga Allah memperbaiki kita, semoga Allah mengampuni kita, mudah-mudahan Allah memperbaikinya.”
Menurut Imam AnNawawi, ada enam perkara dimana muslim diperbolehkan ghibah didalamnya:
1. Ghibah dalam hal kedhaliman. Orang yang terzhalimi dibolehkan mengadukan penganiayaannya  kepada orang yang memiliki kekuasaan agar si zhalim menghentikan perbuatannya (An Nisaa’ 148)
2. Ghibah yang ditujukan untuk meminta pertolongan orang lain agar ia melenyapkan kemungkaran dan memperingatkan dengan keras mereka yang berbuat maksiat, jika ia sendiri tak mampu melakukannya. (Ali Imran 78-79)
3. Ghibah dalam rangka meminta nasihat untuk menyelesaikan masalah.

Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun Binti Utbah, isteri Abu Sufyah pernah menyela Rasulullah SAW ketika para wanita termasuk Hindun berbai’at kepada Rasulullah dan sampai pada pasal “Tidak Mencuri”. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang kikir. Ia tak pernah memberi nafkah yang cukup untukk, kecuali jika aku mengambil tanpa sepengetahuannya.” Beliau Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Ambillah nafkah yang cukup untukmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik” (HR Bukhari Muslim)

4. Ghibah dalam memberikan nasihat kepada kaum muslimin agar tidak terjatuh pada lubang kejahatan.

Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda tentang orang yang memiliki pemahaman yang merusak, “Aku tidak tahu sedikitpun jikalau Fulan dan Fulan itu mengetahui tentang urusan agama kami.”(HR Bukhari)

5. Ghibah dalam rangka menegur terus terang orang yang melakukan kefasikan terang-terangan seperti minum khamr atau merugikan kepentingan umum seperti merampas harta orang, korupsi dll.
6. Ghibah dalam rangka memberikan penjelasan yang diperlukan. Misalnya, “yang orangnya agak gemuk dan pendek”. Tapi jika dimaksudkan untuk menghina dan mengejek, maka hukumnya jelas haram.

(BMC, Salim A. Fillah)

Rasulullah pernah mengingatkan untuk berhati-hati menjaga lisan. Karena lisan  lebih tajam dibandingkan pedang. Luka karena pedang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang benar. Sedangkan luka karena lisan tidak mudah dilupakan. Dan benarlah Rasulullah, bahwa banyak orang yang akan celaka karena tak bisa menjaga lisannya. Semoga kita mampu menjaga lisan ini agar tak menyakiti saudara kita. Tak lupa untuk berhati-hati ketika hendak menceritakan keburukan orang lain yang jika dia mendengarnya, bisa jadi dia tidak menyukainya. Dan menurut hadist riwayat Muslim, bila itu benar adanya, maka itu yang disebut ghibah. Namun jika itu salah, itu fitnah.

Sedikit mengulas lagi taujih yang mengena dan masih kuingat dari adik-adik 2010,

Dikisahkan ada 2 orang yang bertemu. Terjadilah diskusi di antara mereka
Fulan A: Aku ada berita tentang si Fulan C yang ingin kuceritakan
Fulan B: Tunggu, sebelum berita itu kau ceritakan padaku, aku hendak bertanya tiga perkara. Pertama,apakah berita yang engkau sampaikan adalah mengenai keburukan atau kebaikan si Fulan C?
FUlan A : Keburukan Fulan, menurutku.
Fulan B:  Kedua, sudahkan engkau mentabayyuni berita tersebut ke orang yang bersangkutan?
Fulan A: Berita ini hanya kudengar dari mulut orang-orang, jadi kebenarannya belum tentu jelas.
Fulan B: Ketiga, apakah dengan engkau menyampaikannya padaku, akan memberi manfaat bagiku, terlebih bagi kemashalatan umat?
Fulan A: Tidak, aku hanya ingin berbagi informasi saja
Fulan B: Jika benar demikian, maka aku tak mau mendengarnya.

Jika perlu, filterlah informasi yang sampai ke telinga kita. Jangan langsung menelan isu atau pemikiran yang sedang berkembang. Carilah dari sumber-sumber yang benar dan jangan sampai kita menjadi penyebar berita yang tidak jelas sanadnya (seperti ucapan, kata si anu dll). Maka berkatalah yang baik atau diam. CMIIW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s