Ketika “Kubaca Firman Persaudaraan”

ketika kubaca firman-Nya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu di risaukan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman

aku ingat pertemuan pertama kita
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat

ya, kubaca lagi firman-Nya, “Sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan
karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua – duanya, mungkin kau saja
tentulah terlebih sering, imankulah yang compang – camping

kubaca firman persaudaraan
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan;
‘para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain…
kecuali orang – orang yang bertaqwa”

(Salim A. Fillah, dalam buku “Dalam Dekapan UKHUWAH”)

Maka dari itu, sebaik-baik ukhuwah itu adalah pertemuan (bukan sms, telpon, dll) dan selemah-lemahnya adalah bait doa pada saudara kita.. Jika yang menautkan ukhuwah ini adalah perasaan kita, maka wajarlah jika segalanya kembali pada perasaan kita ketika ukhuwah itu runtuh. Namun ketika itu adalah iman, adalah ikatan persaudaraan kita sebagai sesama muslim, adalah sebab “aku mencintaimu karena Allah”, maka kiat menjaganya adalah satu hal penting, jagalah ruhiyah kita:)

5 pemikiran pada “Ketika “Kubaca Firman Persaudaraan”

  1. mbak nuriss… hohoho…😀 *geje bgt ya..

    • ovaa…suatu saat kamu pasti akan mengalami ini. ketika ukhuwah mulai pudar, ketika semua saling meminta, ketika tak ada yang peduli, ketika merasa sendirian, ketika mengangap ada tak ada diri dalam dakwah, tak ada gunanya (maka itu benar karena sejatinya kita yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita)…maka yakinlah ikatan itu tak sekedar apa yang tampak di mata saja, tapi juga dalam hati. smoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan bersabar:)
      #dari yang senantiasa belajar memahami, memahami dan memahami karakter orang lain

  2. hehe 🙂
    semoga kalau suatu hari ova ngalami itu, ova bisa sabar ngadepinnya.

  3. mohon share~~~^_^

  4. boleh. salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s