Brownies, Malu dan Barokah

Bismillah,

Menuliskan cerita yang menggelitik hati jika mengingatnya. Sore hari, aku disms seorang akhwat untuk mencicipi brownies buatan ibu binaan di Gebang. Sebelumnya, kami di lembaga dakwah kampus mengadakan pelatihan memasak snack ringan untuk ibu binaan. Peserta ibu-ibu yang datang menyempatkan waktunya hanya memenuhi seperempat dari target, bahkan ada dua daerah yang tidak mengirimkan perwakilannya. Kata panitia akhwat, barangkali karena di hari Sabtu, hari pelatihan itu diadakan, mereka harus nyambi bekerja sehingga tidak bisa hadir.

Karena terbatasnya alat, akhirnya banyak bahan-bahan yang tersisa dari pelatihan sehingga dibawa pulang oleh ibu binaan dengan maksud untuk mencoba resepnya di rumah. Mulanya kukira hanya  ibu binaan yang ikut pelatihan yang akan berlatih di rumah, tapi ternyata di Gebang, ibu Firo, salah satu peserta, mengundang ibu-ibu yang tidak ikut pelatihan untuk memasak berjamaah. Bahkan kue brownies hasil kreasi ibunya lebih padat dan lebih terasa dibanding yang dihasilkan di pelatihan kemarin. Kata bu Firo, hal itu disebabkan oleh tingkat pengadukan mixer yang lebih lama sehingga kuenya serasa brownies merk terkenal. Yang membuatku tertegun adalah semangat ibunya mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dan juga berbagi pada teman sekampung.

Saat bertamu untuk mencicipi, di tengah pembicaraan…

“Mbak, ngapunten nggih..” ibunya berkata di tengah obrolan. Aku dan kedua teman akhwat memerhatikannya sambil terkagum-kagum dengan roti buatannya yang persis bahkan lebih lezat dibandingkan saat pelatihan. “Mbak kalau naik motor cepat sekali.” tatapan matanya mengarah padaku. “Kemarin, ibu sampai takut, khawatir… Di tengah perjalanan, ibu cuma bisa dzikir sebanyak-banyaknya supaya selamat. Sehari-hari ibu naik sepeda ontel, jadi kaget waktu dibonceng Mbak’e.”

Spontan teman-teman akhwat tertawa mendengarnya. Aku berkali-kali minta maaf ke ibunya. Teringat saat menjemput ibunya kemarin, aku mengebut sampai 70 km di daerah perumahan dekat Gebang yang kondisinya memang sepi kendaraan. Belum lagi, di tengah perjalanan aku sempat menyerempet seorang ibu yang bersepeda melawan arus. Ya Rabbi, maafkan hamba-Mu. Jurus ini sering keluar jika kepepet waktu (apalagi jika ada undangan syuro di pagi buta).

Bu Firo, ibu binaan yang semangat belajarnya tinggi. Beliau punya usaha kerupuk yang bervariasi, dari rasa ceker, melon, udang, dan beragam lainnya. Kerupuknya diberi nama “Barokah” langsung oleh ibu Walikota saat pameran usaha. Bu Firo sendiri dikenal selalu datang jika diundang pelatihan. Katanya menimba ilmu itu penting meskipun sudah menjadi ibu rumah tangga. Beliau juga baru saja mengikuti kursus menjahit demi menambah ketrampilannya. Satu lagi sosok yang menginspirasi. Belajar yang tak kenal usia. Tak pernah puas dengan ilmu yang dimiliki. Pun totalitas dalam berusaha. Subhanallah..

10 pemikiran pada “Brownies, Malu dan Barokah

  1. hehehe,,,akhirnya langsung di post. ibu2 di kejawan juga uda pada praktekkin loh mbak..kata ibu2nya enak😉
    ibunya pengen nyoba jualan tapi gag tau caranya. yuk mari kita bantu… :p

  2. Alhamdulillah. Ayo anti post juga apa yang menarik pas nyicip browniesnya. Ayuk dibawa ke syuro ya:)

  3. ehem..anti kapan prakteknya ukh? nyicip dung. yang ada kejunya gitu topingnya.🙂
    ayo ukh, dikembangkan. semoga di seminar kewirausahaan bisa memotivasi ibu2. karena kalo denger2 dari bu choiriyah, yang agak susah tu menyemangati ibu2 untuk berwirausaha.

    *btw, uus udah menikah ya? ane sempet kaget dengernya…iim juga udah tunangan…

    • Hah? Jadi yang nikah kemarin tu uus toh? Aq malah baru tahu..Cuma tau kalo ada mantenan tapi ga tau siapa. Nnt aq kroscek deh…>_<"

      Jumat mlm ntar mau bikin kue ukh di rumah. Nantikan yaa! Hehe.

  4. iya, hasil investigasi singkat dengan bu rista waktu di TFU. dan uus tetep sekolah alhamdulillah..cuman ya gitu ukh,pergaulan adek2 kayaknya mengkhawatirkan…mereka udah mulai mentoring belum?

    kuenya ditunggu euy.. ^^

  5. Waaa…ada mbak immash.. :
    Kuenya uda abis mbak…Mau dimakan sama anak2nya mbak nuris :p

    • Hoo. InsyaAllah mentoringnya mau dimulai minggu depan ukh. Dibalut lomba mewarnai, sekaligus pembukaan mentoring ke adik binaan.

      Ya, doakan berhasil dulu ya masaknya. Masih besok.. Kalo gagal, masak takkasi juga?:D.

  6. o iya ukh, pembinaan ke ibu2 perlu dianalisis ulang. dulu di keputih tegal ibu2nya yang menginginkan adanya belajar baca al qur’an. tapi seiring waktu peminatnya semakin sedikit. terakhir kamis kemarin ada dua, itupun setelah beberapa saat menanti. mungkin agak berbeda dengan trend lalu, biasanya ibunya sudah menunggu dan paling tidak ada empat yang konsisten datang. coba dianalisis lagi kebutuhan binaan apa, lebih sering silaturahim dan ngobrol aja sama ibu2nya…. nitip itu aja ukh, karena sebenernya di keputih sudah ada yasinan rutin+arisan ibu2, dan yang datang lumayan banyak.

  7. Yupp. Jadi teringat arahan gbhk yang anti sebutkan. Jazakillah masukannya:) Segera diproses di internal.

  8. okeeee….ditunggu aksinya ukh…kemarin yang dateng ibunya satu doang, sempet ngobrol bentar tentang kondisi di sana. anti tanya dek ova dah….
    Mari perbaiki kualitas pembinaan!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s