Sekilas tentang tawakal

Tawakal merupakan ibadah hati. Kata tawakal berasal dari salah satu dari 99 nama Allah, Al Wakil yang artinya Dzat yang mengurus hambaNya, dengan kebaikanNya, tidak akan menyia-nyiakan dan memberikan kemudaharatan bahkan Dia akan menunjukkan jalan kemaslahatan. Tawakal artinya kepasrahan hati di hadapan Allah Azza Wa Jalla. Serahkan hati kita pada Al Wakil lalu katakan “Cukuplah Allah bagiku, sebaik-baik tempat bersandar.”  Bertawakal kepadaNya, lalu ambillah segala sarana dan ikhtiar dengan anggota badan kita dan biarkanlah buah ikhtiar seperti apa yang Al-Wakil rancang untuk kita. Allah SWT berfirman,

“ Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memujiNya..”(Al-Furqon 58)

Mari belajar tawakal dari Nabi besar kita, Muhammad SAW. Dengarlah ketika Nabi  mengajari anak kecil berusia sepuluh atau dua belas tahun. Bahkan di usia sepuluh tahun telah diajari tawakal, sedang ada orang yang berusia enam puluh atau tujuh puluh tahun yang tidak mengerti makna tawakal. Perhatikanlah bagaimana beliau menumbuhkan makna itu ke dalam dada anak seusia itu…

Ibnu Abbas R.A berkata “Ketika aku masih kecil, Nabi SAW berkata padaku, “Wahai Ghulam, aku akan mengajarkan padamu beberapa kata: Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu; jagalah Allah, maka kau akan dapatkan Dia di hadapanmu; jika kau meminta, mintalah kepada Allah; jika kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan Allah. Ketahuilah, sekiranya satu umat berkumpul ingin memberi manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat kecuali telah Allah telah tulis untukmu. Demikian pula sekiranya mereka berkumpul ingin mencelakakanmu, maka mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali dengan apa yang telah Allah tulis untukmu. Pena telah terangkat, dan kertas telah kering” ”(HR At-Turmudzi & Imam Ahmad)

Keindahan ibadah adalah ketika kita menyerahkan pilihan pada pilihan Allah. Jika hidup terasa susah, bersandarlah hanya pada Allah. Berikan tanda tangan kontrak perwakilan pada Allah dan katakan “Aku serahkan pada-Mu, wahai Rabbku!”. Katakan itu dengan hati, bukan lisan kita. Katakan dengan jujur dan serahkan beban itu pada Allah. Rasakan ketenangan yang akan terjadi, bagaimana masalah di sekitar kita dan kita bias menjadi begitu tenang karena kita bersama Al-Wakil. Bertawakal pada Al-Wakil, Yang menjamin urusan hambaNya. Dialah penguasa kerajaan langit dan bumi.

Apa yang diterima Nabi Ibrahim alaihissalam ketika menghancurkan berhala? Ia telah menghancurkan taghut masa itu sehingga penduduk satu negeri menuntut balas. Mereka menindas beliau, lalu berkumpul untuk membakar beliau. Lalu apakah Al-Wakil menyerahkan Ibrahim kepada orang kafir itu? Tidak, karena siapa yang bersama Allah, maka Allah akan bersamanya. Ibrahim pun berdoa, “Hasbunallah wa ni’mal Wakil, Cukuplah bagiku Allah, (Dialah) sebaik-baik tempat bersandar”.

Lalu ketika Nabi Ibrahim hendak dilempar ke dalam api besar setinggi bangunan bertingkat empat atau lima, Allah berfirman, “Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan neraka itu orang-orang yang paling merugi” (Al-Anbiya 69-70)

Nabi Ibrahim tetap hidup atas ijin Allah, keluar dari api dan terus melanjutkan dakwah ke jalan Allah dengan bertawakal padaNya. Itulah, Al Wakil tidak akan pernah menelantarkan kita dalam kejelekan. Ia tidak akan menghalangi satu rezeki pun dari manusia. Bila Dia menghalangi,maka itu agar kita memikirkan hikmahnya, bahwa Allah membuka jalan rezeki lain atau untuk menguji hambaNya yang beriman.

Lalu bagaimana menjadi orang yang tawakal (mutawakil)? Terus menerus berhubungan dengan Allah, tak lupa dzikir dan doa karena itulah senjata orang mukmin. Senantiasa mengingat dan berdoa pada Allah agar menjadikan diri menjadi mutawakil.

Allah mencintai hati hambaNya yang terkait padaNya sendirian ketika ia sedang dalam kondisi taat. Tetapi kadang hamba itu tersibukkan oleh urusan dunia, sehingga Allah mengambil dunianya agar ia tersibukkan Allah saja dan bertawakal padaNya. Lihatlah Nabi Ibrahim saat tertarik pada Nabi Ismail. Allah menguji beliau. Dia perintahkan padanya untuk menyembelih Ismail. Ketika ia meletakkan pisau di leher Ismail, yang ada di hatinya adalah kecintaan pada Allah. Karena memang segala sesuatunya pasti kembali pada Allah. Pun seperti kisah Nabi Ya’qub yang menyayangi Nabi Yusuf, sehingga kecintaan itu memenuhi hidup dan hatinya. Maka Allah mengambil Yusuf selama dua puluh tahun, sehingga hatinya kembali dipenuhi cinta pada Allah. Setelah itu, Allah pun mengembalikan Yusuf padanya seperti Allah mengembalikan Ismail pada Ibrahim.

Barangkali ketika kita dilanda masalah, janganlah langsung bersedih. Inilah saat untuk menyerahkan urusan itu padaNya. Biarlah Allah yang berkehendak setelah kita berikhtiar. Biarkanlah rencana Allah yang indah itu mengalir. Ambillah sebab (ikhtiar) dan tinggalkanlah hati kita di hadapan Allah semata.

“..Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..” (Ath Thalaq 3)

Dan sekarang, siapkah anda untuk bertawakal?

[diambil dari Hati Sebening Mata Air, bab Tawakal – Amru Khalid]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s