Malam pertama kami mengajar

Malam yang indah, ketika bulan muncul hampir bulat sempurna, bercahaya terang dan terlihat begitu besar. Aku bersama kedua temanku sengaja meluangkan waktu untuk mengajar Iqra ibu-ibu ba’da Isya ke Keputih Tegal Timur. Kami melewati jalan yang dikelilingi pohon bambu. Perasaan kecut itu hadir karena memang jalan yang menghubungkan jalan besar Keputih dan kampung tujuan kami yang jadi pusat pengolahan tinja itu tidak difasilitasi dengan lampu jalan yang memadai. Yang ada hanyalah satu lampu di pertengahan jalan dengan suasana sangat hening. Jarang pula kendaraan yang melintas.

Gambar 1. Suasana malam yang kelam

Gambar 2. Gapura Keputih Tegal Timur

Setelah memasuki perkampungan yang cukup ramai, melewati rumah-rumah kecil yang saling berdempet, bapak-bapak yang berkumpul sambil minum kopi, adik-adik yang bermain dan berkejaran sehabis mengaji di TPA, sampailah kami di depan masjid Baitun Nuur. Kami disambut oleh bapak takmir masjid dan bu Luthfiyah, pengajar sukarelawan yang biasa membantu ibu-ibu belajar membaca Iqra. Namun saat itu, ibu Luthfiyah sedang tidak shalat sehingga tidak bisa membantu kami mengajar. Saat itu sudah jam setengah delapan malam, namun ibu-ibu belum datang ke masjid. Sembari menunggu kedatangan ibunya, kami berbincang sebentar dengan bapak ta’mir masjid.

“Ini lo mbak. Adik2 SMPnya sekarang jarang mau belajar ngaji. Padahal kan tujuan mereka belajar juga supaya bisa ngajari adiknya yang masih kecil kalo sudah lancar. Tapi sekarang mereka malu mbak buat datang ke TPA lagi. Barangkali malu dengan usianya yang sudah tak lagi kanak-kanak. Padahal disini ibu-ibunya semangat kalo diajar ngaji. Mbaknya mungkin mau mengajari adik SMP supaya mau ngaji lagi.”

Aku terdiam. Tak mengiyakan, dan tak juga menolak. Memikirkan biro JMMI yang lain, tugas akhir, tugas harian di rumah dll saja sudah membuat pusing. Bingung juga dengan permintaan bapaknya. Kuputuskan diam karena aku tahu bahwa masih banyak yang perlu dibenahi dari BPU.

Perlu diketahui, bahwa ini adalah perdana bagi kami mengajar Iqra di semester baru. Biasanya kemarin bu Luthfi yang menghandle pengajian hampir setiap harinya. Dari teman pembinaan BPU, membantu bu Luthfi mengajar hanya ketika hari Ahad saja, namun kemarin tidak membantu karena masuk bulan Ramadhan. Seperti seleksi alam, ibu-ibu yang rutin mengaji sekitar 4-5 orang. Akan tetapi, sejak liburan idul fitri, pengajian seolah vakum dan sulit untuk Bu Luthfi mengajak ibu-ibu kembali mengaji. Maka siang tadi, kami dari biro pembinaan BPU  berinisiatif menyebar undangan BBQ perdana yang kami titipkan ke Bu Luthfi.

Tak lama kami berbincang, datanglah dua ibu-ibu. Bu Wiji dan Bu Ismiyati. Kedatangan mereka diekori oleh adik-adik binaan yang masih SD dan ikut meramaikan suasana pengajian di masjid. Akhirnya forum pengajian itu dibuka meski dengan peserta 2 orang, padahal pengajar yang datang 5 orang. Jadilah sisa pengajarnya meladeni tingkah polah adik-adik yang juga ikut belajar mengaji.

Gambar 3. Suasana BBQ, meski sedikit tapi tetap semangat

Gambar4. Pose dulu ya dek…

Malam itu begitu indah. Melihat usaha ibu-ibu belajar mengaji menyadarkanku akan semangat tinggi mereka untuk memahami bacaan Al-Qur’an. Jadi teringat kisah ibu di Kejawan yang menghapal surat Yasin dari kaset namun beliau tidak bisa membaca Al-Qur’an. Sampai-sampai ibu itu meminta tolong anaknya untuk mengajarinya membaca Iqro, tapi anaknya sibuk sekolah. Malu mengingat diri ini yang baru bisa mengerjakan tugas ketika muncul ‘the power of kepepet’ alias bekerja ketika tenggat waktu menghadang. Pun terharu dengan teman-teman pengajar yang ikhlas membantu ibu-ibu di sela-sela jadwal mereka yang sangat padat sebagai mahasiswa teknik.

Semoga malam berikutnya lebih barokah. Meski mengajari mengaji merupakan sesuatu yang kecil, meski bukanlah perubahan yang besar, namun semoga apa yang kami lakukan ini bermanfaat bagi ibu-ibu. Mengajari mengenalkan untaian firmanMu ya Rabb, bukankah itu indah?

4 pemikiran pada “Malam pertama kami mengajar

  1. MasyaAllah, semoga kehadiran kita bisa memberikan makna tersendiri buat mereka. Semangat teman2 BPU… Afwan kemarin ahad belum bisa ngajar, masih sakit badan. InsyaAllah ahad ini diusahakan.

  2. adek kesembilan, anti jadi BPU banget ya! senang melihat anti BPU banget. hehe
    jadi rindu saat2 dulu. lebih sering main ke rumah ibunya ya ukh. o iya, dulu sebenernya ada project film dokumenter BPU. udah syuting, belum diedit. tipe file nya yang belum bener. mau dilanjutin nggak?

  3. Ping balik: Upacara Tengah Malam | Catatan St.Nagari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s