Masihkah sekolah hanya sekadar mimpi?

“Kayaknya habis ini saya tidak bisa melanjutkan sekolah, Mbak” ucap salah seorang adik di Kejawen Gebang yang saat itu masih duduk di bangku 2 SMP. Aku sontak menoleh dan merasakan getaran yang aneh. Di depan mataku, kini ada anak yang akhirnya akan putus sekolah karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan. Padahal biasanya hal itu hanya kutemui di berita koran atau dari selingan di TV, yang biasanya kuanggap angin lalu saja. Kini, contoh nyatanya ada di hadapanku. Korban dari keluarga yang kekurangan ekonomi yang tidak bisa mengecap pendidikan lanjut. Kala itu adalah saat kami mengajar ke adik-adik binaan di Kejawan Gebang. Mbak Nurma, sebagai leadernya mencoba membuka forum terbuka untuk sharing dalam hal mengatasi masalah adik-adik. Dan kalimat itu meluncur keluar juga.

Aku menatap mbak Nourma dalam-dalam. Mencoba menyimak apa jawaban beliau.“Selalu ada harapan, Dik” katanya sambil menatap ke semua adik-adik yang berkumpul melingkar waktu itu.”Banyak beasiswa yang diberikan kepada adik-adik kurang mampu jika ingin melanjutkan sekolah.” Harapan! Teriakku dalam hati. Ya, memberikan harapan agar adiknya tidak patah semangat. Semua selalu berawal dari harapan dan mimpi. Tapi jika hanya mendorong berharap  tanpa aksi?

“Coba cita-cita kalian apa?” Tanya mbak Nurma riang, menghangatkan suasana yang hening. Mungkin saja tidak hanya satu adik yang berpikir seperti itu, berpikir bahwa masa depan mereka masih menggantung, berpikir bahwa melanjutkan sekolah adalah hal yang sulit, karena kulihat mereka seperti antusias terhadap uneg-uneg yang disampaikan adik kelas 2 SMP tersebut. Kemudian meluncurlah banyak kata yang menggantungkan asa. Dokter! Guru! Pelatih tari! Orang Sukses!

“Cobalah kalian tuliskan mimpi kalian di atas kertas. 100 mimpi, Dek. Seperti kisahnya mas Danang. Ada yang pernah mendengar?” Tanya mbak Nurma. Semua kepala menggeleng. Kemudian diceritakanlah kisah seorang pemimpi yang menuliskan mimpinya di secarik kertas dan kehebatan beliau yang selalu gigih dalam menggapai mimpinya. “Cobalah adiknya nanti mengembangkan dulu kemampuan atau hobi yang adik punya. Dari situ, mungkin bisa membawa pada kesuksesan yang adik harapkan.” Tambah mbak Nurma.

“Saya ga ada hobi atau kemampuan, Mbak. Paling taunya nonton TV.” Celetuk salah satu adik. Ah! TV, makanan mata yang jarang memberi manfaat. . Hal yang selalu dikonsumsi orang kala menghabiskan waktu luang Kebanyakan menawarkan keindahan dunia, terutama sinetron dan gosip yang seolah-olah menyiratkan ‘hedonisme’ dengan terang-terangan. Aku bersyukur dalam hati sering ngendon di jurusan, sehingga jarang bagiku berkesempatan menonton TV.

Berikutnya, mbak Nurma menekankan tentang usaha dan kerja keras. Mindset gagal adalah hal yang harus diubah, karena jika berpikir gagal maka hasilnya bisa jadi gagal. Selalu berdo’a pada Allah untuk bisa diberikan yang terbaik, karena  Allah selalu memberikan rencana yang terbaik untuk kita. Akhirnya, karena waktu mengajar yang telah habis, forum itu ditutup juga dengan doa. Kami, para pengajar, meninggalkan tempat mengajar itu dengan lelah raga yang tersisa. Lagi-lagi dalam hati aku bersyukur, karena aku dilahirkan di keluarga yang menengah biasa, sehingga aku bisa mengecap pendidikan kuliah, apalagi di jurusan favorit.

Dan haruslah ada perubahan untuk itu! Bukan hanya sharing, membelai kesulitan, ataupun mendengarkan selintas, tapi harus ada tindakan demi menyelamatkan masa depan adik-adik. Masih terngiang di benakku suatu kalimat yang sempat membuatku merinding.”Adik yang itu kemana, Dik? Kok ga pernah keliatan les lagi”. Lalu terdengarlah jawaban “Anaknya sudah putus sekolah, Mbak. Orangtuanya menyuruh bekerja.”

….

  12 Mei 2011 18.30 @Kejawan Gebang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s