Hikmah yang tersembunyi di balik pasar

Teringatku akan suasana pasar tradisional Bronggalan yang senantiasa tak lepas dari keramaian para pembelinya. Pasar di pinggir jalan yang kebanyakan menjual bahan masakan. Disitulah aku biasa berbelanja setiap empat atau lima hari sekali. Bangga rasanya bisa menjadi mahasiswa yang bisa terjun ke masyarakat meski itu cuma level pasar sekalipun. Aku bahkan hapal mana rombong sayur yang murah, stand kerupuk yang enak, atau tempat orang jualan ayam yang harus dihindari karena harganya yang tidak lebih murah dibanding yang lain. Ibu-ibu penjual disana pun sudah hapal kebiasaanku yang suka memborong lauk atau kedatanganku yang seringkali di saat-saat malam menyapa. Mungkin juga karena sedikit orang muda sepertiku yang rutin berbelanja disana.

Pernah aku dikira anak UNAIR ketika aku menyebutkan profesiku sebagai mahasiswa pada pedagang tahu tempe langgananku. Barangkali karena lokasi pasarnya yang lebih dekat ke UNAIR dibanding ITS. Pernah pula aku ditanyai, ‘kok, belanjanya banyak mbak? mau jamuan ya?’ Ya jelas banyak, karena aku sering memborong bahan belanjaan untuk jatah empat hari dalam satu hari. Maklum, untuk belanja saja, aku harus menyempatkan diri di sela-sela pulang kuliah. Untuk menentukan lauk dan sayur mana yang bisa tahan lama dalam empat hari itu juga bukan hal yang mudah. Perlu kombinasi yang bagus agar bahan belanjaan yang kubeli bisa bertahan baik sampai nantinya akan dimasak. *halah*Aku juga pernah terharu ketika ada pedagang yang menanyakan kehadiranku di pasar saat aku vakum sementara dari rutinitasku yang satu ini.

Berkat perjalananku ke pasar, aku tidak pernah ketinggalan info tentang perubahan harga ayam, cabe, buah dll. Hikmah lain yang kudapat, aku menjadi belajar untuk super irit. Biasanya untuk membeli bahan lauk pauk dalam satu hari, aku hanya menghabiskan lima belas ribu hingga dua puluh ribu. Aku juga belajar tawar menawar di pasar. Dan memang disana, tidak ada perbedaan derajat dimana semua pelanggan dilayani tanpa memandang status. Kadang pasar juga menjadi refreshing sendiri bagiku karena bertemu dengan berbagai macam orang dengan latar belakang berbeda (baca: pelanggan yang antri beli). Mengamati tingkah laku orang di pasar juga menjadi pembelajaran sendiri bagiku (baca: melihat bagaimana cara ibu2 mendapatkan harga yang murah)

So, jangan takut ke pasar tradisional ya:D InsyaAllah lebih terjangkau dari segi harga, dan pelayanan disana juga terbaik. Apalagi kalau sudah kenal dengan penjualnya, kita bisa mendapatkan barang yang lebih murah dibanding biasanya. Sip wes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s