Sudahkah cinta ini ada untukNya?

Bismillah…

Cinta, satu kata yang tak pernah orang bosan untuk membahasnya di tiap masa. Jika ingin cinta yang menentramkan hati, yang tak pernah mengecewakan, maka jawabannya adalah cinta kepada Allah SWT. Inilah cinta sejati yang membawa kebahagiaan tidak cuma di dunia, tapi juga di akhirat. Namun anehnya, cinta ini jarang diburu orang. Lebih banyak cinta yang tercurahkan pada makhluk lain, melebihi cinta pada sang Rabb. Entah itu harta, lawan jenis, atau hal lain yang membawa-bawa hawa nafsu.

Jika seorang muslim itu mencintai Allah, walaupun seisi bumi membencinya, maka ia akan tetap bahagia dan mendapat ketenangan. Karena itulah diri ini bisa menjadi tenang walaupun ia berada dalam ujian yang berat karena ia yakin Allah tidak pernah memberi cobaan diluar kesanggupan hambaNya. Karena ia yakin, itulah cara Allah mengujinya, itulah tanda Allah merindukannya dimana seringkali manusia mudah terlena dengan nikmat namun selalu ingat di kala susah. Jika cinta pada yang lain, sudah pasti tidak kekal karena ada saatnya akan menemukan perpisahan.

Masih ingatkah kisah nabi Ya’kub yang tetap setia mencintai RabbNya ketika harta, anak dan isteri sudah meninggalkannya padahal sebelumnya dia berada dalam keadaan yang berlimpah? Atau kisah nabi Nuh yang tetap bersabar dan bertahan menyampaikan dakwah pada kaumnya selama 950 tahun karena beliau yakin Allah pasti akan memberikan pertolongan pada hambaNya yang membutuhkan. Malu rasanya diri ini sedih berlebihan ketika mendapati sesuatu milik pribadi yang hilang, padahal segala sesuatunya pasti kembali pada Allah. Sungguhkah hati ini benar benar sudah mencintai Allah?

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.

Dengan mencintai Allah, kita dapat merasakan harap sekaligus cemas di setiap perbuatan kita. Harap yang membuat kita selalu berhusnudzan pada Allah karena kita berharap agar amal shalih kita diterima oleh Allah. Cemas yang mendorong kita melakukan ibadah sunnah karena takut tidak sempurnanya amal kita, pun cemas yang membuat kita menghindari perbuatan yang tidak disukai Allah.

Lalu mudahkah mencintaiNya? Simpelnya, mencintai Allah adalah saat kita menjadikan Allah sebagai prioritas utama kita di setiap nafas kita. Kita tak lagi melihat apa pendapat orang lain atas tindakan dan sikap kita, namun parameter kita dalam menjalani hidup yang singkat di dunia ini adalah ridhoNya. Mencintai Allah berarti melakukan apa-apa yang dicintaiNya dan menghindari apa-apa yang dibenci olehNya. Dan teman-teman pasti tahu, itulah yang disebut takwa seperti yang sudah dijelaskan berulang-ulang pada kita saat masih SD, SMP dan SMA.

Menurut Ibnul Qayyim ada sepuluh hal yg menyebabkan orang mencintai Allah SWT yakni:
1. Membaca Al-Quran dan memahaminya dgn baik.
2. Mendekatkan diri kepada Allah melalui media sholat sunnah sesudah sholat wajib.
3. Selalu menyebut dan berdzikir dalam segala kondisi dgn hati lisan dan perbuatan.
4. Mengutamakan kehendak Allah disaat berbenturan dgn keinginan hawa nafsu.
5. Menanamkan di dalam hati asma’ dan siaft-sifat Allah SWT dan memahami maknanya.
6. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita baik ni’mat dhohir maupun ni’mat batin.
7. Menunduk hati dan diri ke kehariban Allah.
8. Menyendiri bermunajat dan membaca kitab suci-Nya diwaktu malam saat orang sedang lelap tidur.
9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang sholeh serta mengambil hikmah dan ilmu mereka.
10. Menjauhkan segala sebab-sebab yg dapat menjauhkan kita daripada Allah.

Ibnu Qayyim pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah. Beliau berkata bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa)

Simak pula hadist berikut yang menggambarkan cinta Allah pada hamba beriman yang senantiasa berusaha mencintaiNya:
“Allah Swt berfirman: ‘Barangsiapa yang mengerjakan 1 kebaikan, maka pahalanya dilipatkan 10 kalinya bahkan Aku lebihkan dari itu. Barangsiapa yang mengerjakan 1 keburukan, maka balasannya hanyalah setimpal dengannya bahkan Aku akan mengampuninya. Barangsiapa menekatkan padaKu sejengkal, niscaya Aku akan mendekat kepadaNya sehasta dan barangsiapa mendekat kepadaKu sehasta, niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa. Barangsiapa yang datang kepadaKu dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang datang menghadapKu dengan memikul dosa sepenuh bumi dengan tanpa menyekutukanKusedikitpun, maka Aku akan menemuinya dengan memberikan ampunan yang sepadan dengan banyaknya dosa itu’”(HR MUSLIM)

Subhanallah. Tidakkah kita mau menjadi hamba yang dicintai Allah?

#diambil dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s