Refresh!

Sore itu, saya berniat mengajar adik-adik binaan di daerah keputih. Dengan semangat tinggi, saya mengkayuh sepeda motor bersama kakak pengajar lain. Saat saya menginjakkan kaki di taman baca, tempat biasa mengajar, saya melongo. Tweeeeng~ Adiknya yang datang cuma sedikit, sekitar empat orang, 3 laki dan 1 perempuan. Usut punya usut, menurut pengakuan adiknya, di saat yang bersamaan ada acara ulang tahun adik perempuan di sekitar keputih. Saya pun hanya bisa ber “oo” ria. Belum lagi di musholla dekat taman baca, ada pengajian menjelang buka puasa dan saya meramalkan akan menambah keributan saat mengajar. Mulanya saya bingung bercampur sedih. Duh, wes sithik, rame pisan dari tetangga sebelah.

Wuzz, tiba-tiba seorang adik laki-laki yang tadinya berniat belajar, menyeberangi kali di depan taman baca tanpa ijin. “Loh loh, itu mau kemana dek?” Dan walhasil saya terpikir untuk mengikuti adiknya. Maklum anak kota, jarang main-main, paling juga pas pulkam atau acara organisasi. Adik-adiknya pun menyepakati untuk tidak belajar di hari itu. Malah mereka yang mengompori saya untuk main-main ke medan yang tidak saya ketahui apa. Dan tujuan misi kami salah satunya adalah mencari bangau, setelah mendengar cerita adik-adik tentang adanya bangau di kolam nun jauh disana. “Disana mbak. Ada bangau biasanya” tunjuk adiknya. Yang lain malah menyahut, “Jare onok buayane pisan, mbak.” Saya hanya tertawa mendengarnya. Weleh weleh, hari gini…

Perjuangan kami, saya, kakak pengajar dan adik-adik, sangatlah berat (untuk saya saja sepertinya). Mula-mula kami harus melewati kali dengan meniti jembatan ala kadarnya. Dengan (sangat sedikit) ketar-ketir, saya menggandeng adik perempuan, Silvi namanya, berjalan di atas sebilah bambu (untungnya) sambil berpegangan pada sebatang kayu. Lalu sampailah kami pada dunia yang seolah-olah asing bagi saya, padahal tiap hari melewatinya, mungkin karena tidak begitu memperhatikan. Banyak kolam (atau tambak ya?) yang umumnya dibuat untuk beternak mujair. Ada pula rumah penduduk yang bertengger di tepi kolam. Disana juga ada ayam, kambing, kerbau dan lain-lain.

Gambar 1. Jembatan ‘Sangar

Setelah lolos dari jembatan tak berbentuk, adik laki-laki malah asyik menaiki pohon dan menduduki dahannya. Dalam hati saya iri, andai bisa naik pohon. Tapi ndak apa, karena untungnya waktu itu bawa kamera temen, sehingga saya pun jeprat-jepret kesana kemari. Disambut pemandangan hijaunya rerumputan dan birunya langit sungguh menyenangkan, meski sederhana rasanya. Pemandangan yang saya lihat sehari-hari mesti gedung-jalan raya-pasar-rumah-masjid. Dari sini, adiknya bertambah dua, perempuan semua, dan kakak pengajarnya pun bertambah satu, sehingga saya menyebut kelompok kecil ini dalam hati, “sembilan musafir pemburu bangau”.

Gambar 3.Pose di po’on

Kami melewati jalan berliku, mulai dari menyebrangi jembatan kayu (lagi), yang menurut saya tidak pantas disebut jembatan karena hanya terdiri dari sebilah kayu yang disusun terpisah. Ya mirip kayak zebra cross gitu. Eman, padahal kalo kayunya disatuin, bisa jadi, lewatnya lebih mudah. Saya sampe nggendong adik perempuan karena mereka ga berani lewat. Rasanya kayak bermain di fear  factor. Eits, jangan kira ini mudah. Mudah sih, kalo bisa berenang, sedangkan saya tidak bisa berenang. Saya sampe membayangkan munculnya headline berita super konyol, semisal – Mahasiswa ITS mati kecebur di kolam mujaer- hehe, ga lucu kan?

Kami juga harus melewati jalan setapak yang berduri karena tanaman liarnya. Belum lagi adanya barang mini tak asing berbentuk bulat coklat yang terkadang mewarnai jalan itu, alias kotoran beku kambing. Adik-adik lebih suka menyebutnya ranjau. Awawa. Must be careful! Angin disana berhembus sepoi dan menyegarkan. Suara air sesekali menyertai ketika ada mujair yang menyembul di permukaan kolam untuk mengambil udara. Langit pun masih membiru dengan awannya yang berarak. Kadang ada bapak-bapak yang melewati kami menuju rumah-rumah sekitar kolam, bahkan ada pula yang naik motor.

Gambar 3. Pemandangan seger

Gambar 4. Ini baru jembatan!

Dan setelah berhasil melewati rintangan demi rintangan, ternyata..”Mbak, bangaunya ga ada. Aliran kolamnya lagi deres” lapor salah satu adik laki-laki yang sebelumnya sudah jauh meninggalkan saya, kakak pengajar dan adik perempuan untuk survey tempat sang bangau. Hiksss… rasanya lemas badan saya. Gagal impian saya melihat bangau selain di kebun binatang dan boks televisi. Saat perjalanan pulang, kami hampir berduel dengan sekawanan kambing. Sayangnya ga jadi, karena kami mengambil jalan setapak lain demi menghindari mereka.

Gambar 5. Jalan setapak

Karena maghrib hampir menjelang, kami pun kembali ke TKP mengajar dengan sebelumnya kumpul di beranda taman baca dulu untuk ditutup dengan doa, meski pada awalnya kami tidak berdoa. Sempat diskusi dengan adiknya juga terkait ‘ibroh’ jalan-jalan tadi. Ibrohnya, yang bisa saya tangkap dari adiknya yaitu “Seneng”. Singkat, hehe. Tapi tak apa, karena saya yakin yang lain pun mengalami hal yang sama. Termasuk saya pribadi.

Gambar 6. Akhiri dengan do’a

-“Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS: Ar-Rahman)

Pengalaman ini mengingatkan saya akan nikmat Allah yang seringkali terlupa. Udara yang saya hirup gratis, anggota badan yang tidak kurang suatu apa, matahari, langit dan nikmat Allah lain yang tak pernah bisa saya hitung. Karena manusia seringkali lupa bersyukur dengan hal kecil namun penting. Hal itu membuat kita lebih bisa memaknai hidup. Bukan berfokus pada apa-apa yang tak kita miliki. Dan jangan sampai kita melupakan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan jangan pula kita dustakan bahwa nikmat itu semuanya datang dari Allah.

Saya sangat apresiasi dengan adik-adik yang rela datang ke tempat les dan tidak ikut acara pesta adik yang berulang tahun. Melihat semangat belajar mereka yang tinggi, membuat saya sungguh iri. Justru banyak hal yang membuat saya belajar banyak dari mereka.

Jadi teringat motivasi seseorang pada saya agar saya lebih bersemangat untuk mengajar, yang tak bisa saya lupakan.

Memang melelahkan, tapi lelah itu menjadi lelah yang menyenangkan.

Satu pemikiran pada “Refresh!

  1. ukh…iri…kangen suasana itu, kangen aktivitas itu..kangen senyum mereka…kangen tingkah mereka… semoga selalu diberi kesabaran dan keceriaan ya dalam menghadapi mereka.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s