Amanah, sebuah investasi atau beban?

Image

Amanah. Satu kata yang tak asing terdengar di telinga kita. Kata amanah dalam KBBI diartikan dengan makna; sesuatu yang dipercayakan(dititipkan) kepada orang lain (seseorang). Amanah merupakan suatu kebanggaan bagi pemikul amanah tersebut, karena secara tidak langsung dirinya mendapat kepercayaan dan pengakuan dari pemberi amanah. Namun, bagi seseorang yang memikul amanah, yang dituntut tidak hanya kejujurannya, namun juga kemampuannya untuk menunaikan amanah tersebut.

Memang, menerima dan menunaikan amanah bukanlah perkara mudah dan bahkan cenderung menjadi beban (meskipun penilaian tersebut sangat tergantung dari sudut dan sisi mana kita memandangnya), tapi untuk mendapatkan amanah juga bukan merupakan hal yang mudah, karena hal tersebut sangat berkait erat dengan integritas diri.

Dalam menjalankan amanah pun bukan hal mudah dan tak jarang mendatangkan kepahitan duniawi, namun balasan yang akan diterima, bila amanah tersebut ditunaikan sebagaimana mestinya, jauh lebih manis dan membahagiakan dibandingkan dengan berbagai macam ketidak mudahan dan kepahitan duniawi disaat penunaian amanah tersebut. Mungkin lelah raga, waktu yang tersita, energi yang terkuras, akan terasa tapi ketika niat kita tulus mencari ridha Allah, maka itu bukan lagi masalah. Justru air mata itu, keringat itu, akan menjadi saksi bagaimana kita berkorban dalam menjalani amanah.

Mencoba untuk menunaikan amanah tersebut dengan mengerahkan kemampuan yang paling maksimal, menunjukkan bahwa diri kita bukanlah sosok pesimistis melainkan merupakan sosok yang senantiasa hidup dalam buncahan harap dan menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Sejatinya ketika amanah itu datang, ketika memang ada pertimbangan yang rasional dari si pemberi amanah, maka tak perlu kita ragu untuk memantaskan diri. Ya, tinggal kita mempersiapkan diri menyambut amanah tersebut.

Namun, ketika kita belum sanggup, dengan masih banyaknya amanah di tangan kita, cukupkanlah! Banyak kader di luar sana, kadang tak bisa menolak amanah, meskipun tahu bahwa amanah qiyadah sudah teremban banyak di pundaknya. Kesungkanan yang berawal dari keterpaksaan, lalu akhirnya berbuah tidak indah pada perjalanan dakwah yang tak pernah mulus. Penerimaan amanah yang tidak secara amanah tidak akan melahirkan kepemimpinan yang amanah pula.

Berbeda lagi, bila sudah diketahui bahwa amanah yang akan dipasrahkan kepada kita memang jelas-jelas tak bisa kita tunaikan, maka menolak untuk menerima dan menjalankan merupakan pilihan yang paling baik dan bijak.Menyadari dan mengakui keterbatasan (ketidak mampuan) diri saat akan dipasrahi sebuah amanah bukan merupakan suatu kehinaan, bahkan hal tersebut menunjukkan betapa kesatria dan pintarnya diri kita. Namun keterbatasan disini perlu digarisbawahi, apakah benar-benar keterbatasan yang syar’i atau justru hanya sebagai tameng kita untuk menghindari amanah? Ada sebagian kader yang tak mau mengemban amanah karena merasa tak berkompeten (alasan klasik), sementara banyak temannya yang terpaksa mengemban amanah lebih dari satu karena alasan ‘tidak ada orang’.

Berbuatlah yang terbaik yang kita mampu, kawan. Tingkatkan rasa optimismu. Yakinlah bahwa sesudah (satu) kesulitan pasti ada (dua) kemudahan (Sumber: QS Al-Insyirah 5-6). Selamat menjalankan amanah dengan iringan keikhlasan bagi yang mendapatkan. Kuntum khairat ummah ukhrijat linnas.

[dikutip dr brbagai sumber]

About these ads

2 thoughts on “Amanah, sebuah investasi atau beban?

  1. bagaimana jika casenya kita sudah tau kapasitas diri dan menolaknya, tapi tidak ada orang yang bisa menggantikan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s